CampusNet – Pada malam 28 Agustus 2025, terjadi insiden tragis di Pejompongan, Jakarta Pusat, ketika seorang driver ojol (Affan Kurniawan) dilindas oleh kendaraan taktis (rantis) Brimob dalam kericuhan usai demo besar di sekitar DPR RI. Korban sempat dilarikan ke RSCM, namun dinyatakan meninggal dunia akibat luka parah yang dialaminya.
Rekap Janji dan Respons Resmi Polri
1. Permintaan Maaf & Instruksi Penyelidikan
- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada keluarga korban, komunitas ojol, dan masyarakat luas atas tewasnya Affan. Dia juga memerintahkan Divisi Propam dan Kapolda Metro Jaya untuk segera menanggapi insiden ini dengan serius.
2. Respons Transparan dari Propam Polri
- Kadiv Propam Irjen Abdul Karim menegaskan bahwa penanganan kasus akan dilakukan secara cepat dan transparan, melibatkan tim internal Propam dan Korps Brimob, serta diawasi oleh pihak eksternal, yakni Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).
3. Penahanan dan Pemeriksaan Tujuh Anggota Brimob
- Sebanyak tujuh anggota Satbrimob Polda Metro Jaya yang berada di dalam rantis saat insiden telah diamankan dan diperiksa. Mereka terdiri dari:
- Kompol C
- Aipda M
- Bripka R
- Briptu D
- Bripda M
- Braka Y
- Braka J
Penanganan kasus berada di bawah kendali langsung Propam, untuk memastikan akuntabilitas dan keadilan.
4. Pengawasan Eksternal oleh Kompolnas
- Tidak hanya menggunakan mekanisme internal, Polri juga membuka pintu pengawasan oleh Kompolnas guna memastikan proses berjalan objektif dan transparan.
Implikasi & Harapan Publik
- Akuntabilitas Aparat
- Penahanan dan pemeriksaan tujuh personel Brimob menandai langkah awal penting menuju pertanggungjawaban. Namun publik menuntut agar proses ini tidak sekadar formalitas, melainkan ujungnya ke sanksi tegas jika terbukti melanggar hukum.
- Restore Trust Publik
- Keterlibatan eksternal seperti Kompolnas sangat krusial untuk membangun ulang kepercayaan masyarakat yang retak akibat kejadian ini. Harapannya: keadilan bukan hanya ditegakkan, tapi juga terlihat secara nyata.
- Evaluasi SOP Pengamanan Massa
- Insiden ini kembali membuka perdebatan mengenai penggunaan kendaraan berat dalam situasi demonstrasi. Transparansi soal SOP dan pelatihan prioritas keselamatan warga sipil menjadi mendesak untuk direformasi.
- Tekanan Moral dan Sosial
- Kematian Affan menambah daftar kontroversi pelanggaran oleh aparat. Komunitas ojol dan publik luas menuntut tidak hanya keadilan hukum, tapi juga peningkatan budaya humanisme dalam penanganan demonstrasi.
Kesimpulan
Polri telah merespons insiden ojol dilindas rantis Brimob dengan langkah-langkah formal: permintaan maaf Kapolri, penahanan tujuh anggota, penanganan transparan oleh Propam, dan pengawasan oleh Kompolnas. Namun, bagi masyarakat, janji transparansi ini harus terbukti nyata dalam proses hukum, dengan hasil yang adil dan berorientasi pada reformasi sistemik.
Publik kini menunggu hasil akhir investigasi—apakah ini akan menjadi momen akuntabilitas sejati, atau hilang di antara jargon reformasi?