Polri Bentuk Polisi Siswa untuk Tekan Bullying di Sekolah

CampusNet – Upaya menciptakan sekolah yang aman kini bergerak lebih cepat lewat pembentukan Polisi Siswa. Gerakan ini muncul di Jakarta melalui Polda Metro Jaya dan di Surabaya melalui Polres Tanjung Perak. Ketiganya membawa semangat yang sama, yaitu mengajak siswa ikut menjaga lingkungan sekolah dari perundungan hingga kenakalan remaja.

Di Jakarta, Polda Metro Jaya memperkenalkan Polisi Siswa dalam kegiatan yang melibatkan ratusan anggota Saka Bhayangkara dan Patroli Keamanan Sekolah. Program ini berjalan dengan prinsip dari siswa untuk siswa. Polisi menekankan pentingnya saling jaga agar sekolah tetap aman.

Di Surabaya Utara, Polres Pelabuhan Tanjung Perak mengukuhkan Polisi Siswa di berbagai sekolah. Pengukuhan ini menjadi langkah konkret untuk menekan kasus perundungan yang masih muncul di tingkat pelajar.

Fokus Utama: Cegah Bullying dan Kenakalan Remaja

Mengutip Radar Surabaya, Polres Tanjung Perak menegaskan bahwa Polisi Siswa berperan sebagai garda awal pencegahan perundungan. Siswa yang terlibat akan membantu mendeteksi potensi kekerasan, baik fisik maupun verbal, serta membantu guru mengawasi situasi sekolah.

Polisi di Surabaya memandang perundungan sebagai tindakan yang merusak mental pelajar. Mereka menyampaikan bahwa kasus kenakalan remaja seperti aksi iseng yang berbahaya atau konflik antarsiswa perlu segera dicegah. Pembentukan Polisi Siswa menjadi cara yang lebih dekat dengan kehidupan pelajar karena pendekatannya berlangsung di antara teman sebaya.

Tugas dan Bentuk Keterlibatan Polisi Siswa

Kedua tempat ini muncul menyebut pola yang sama. Polisi Siswa akan membantu sekolah mengawasi area yang rawan, memberikan laporan awal kepada guru atau pembina, serta menjaga iklim pertemanan agar tetap sehat. Mereka bukan aparat kecil yang menakut-nakuti teman, tetapi menjadi bagian dari komunitas siswa yang peka terhadap masalah sosial.

Di Surabaya, Polres Tanjung Perak menekankan bahwa Polisi Siswa harus menjaga sikap, menghormati teman, dan mengutamakan cara yang humanis. Dengan cara itu, siswa lain tidak merasa diawasi secara berlebihan, tetapi merasa dikawal agar lingkungan tetap aman.

Harapan dan Dampak Positif

Baik di Jakarta maupun Surabaya, polisi berharap pembentukan Polisi Siswa dapat menumbuhkan budaya saling jaga. Pendekatan ini memungkinkan pencegahan terjadi lebih cepat sebelum kasus membesar. Namun, perlu ada pengawasan ketat dari guru dan pembina.

Peran Polisi Siswa berpotensi menimbulkan masalah baru jika penunjukannya tidak transparan atau tidak dibarengi pembinaan yang jelas. Gelar Polisi Siswa dapat memberi posisi yang lebih berpengaruh di antara siswa.

Kondisi ini bisa membuka peluang penyalahgunaan peran, termasuk kemungkinan pelaku bullying justru memperoleh kekuasaan tambahan. Pengawasan yang konsisten menjadi kunci agar program ini tidak berubah menjadi sumber ketimpangan baru di sekolah.

Sekolah yang menerima program ini berharap angka perundungan turun, komunikasi siswa membaik, dan pelajar lebih sadar akan keamanan.

Baca Juga: Gelombang Perundungan yang Berujung Kematian, Alarm Keras untuk Dunia Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok