CampusNet – Setelah lebih dari satu bulan Aceh menghadapi bencana banjir, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) kembali menetapkan perpanjangan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh. Mualem menetapkan perpanjangan ketiga setelah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan surat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang perpanjangan status gawat darurat Aceh. Gubernur Aceh menetapkan perpanjangan ini selama dua minggu, terhitung mulai 7 Januari hingga 20 Januari 2026.
Perpanjangan ini mempertimbangkan keadaan wilayah terisolasi, keterbatasan logistik, serta tingginya angka warga terdampak. Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, menyampaikan bahwa dampak bencana tersebut belum dapat tertangani dengan maksimal. “Keadaan di lapangan menunjukkan situasi yang masih membutuhkan perhatian serius agar dampak bencana dapat dihilangkan atau setidaknya diminimalisir,” ujarnya dalam pertimbangan keputusan tersebut.
Berdasarkan rekapitulasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Aceh mencatatkan jumlah korban jiwa tertinggi, sebanyak 543 orang. Aceh juga menjadi provinsi dengan jumlah pengungsi terbanyak yaitu 217.780 jiwa. Angka tersebut mendominasi total pengungsi di ketiga provinsi terdampak yang berjumllah 242.174 jiwa.
Fokus Masa Tanggap Darurat: Logistik dan Infrastruktur
Fokus utama pada perpanjangan ini adalah pembersihan lingkungan dan distribusi logistik ke desa-desa yang masih sulit terakses. Mualem menginstruksikan penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) kepada seluruh kepala daerah di Aceh. Dokumen R3P nantinya akan menjadi acuan pembangunan kembali Aceh. Para kepala daerah wajib menyusun dokumen R3P selambat-lambatnya minggu ketiga Januari 2026.
Infrastruktur juga menjadi fokus utama dalam perpanjangan ini. Melansir kanal resmi Humas Aceh, Mualem mengungkapkan pentingnya pemulihan jalan dan jembatan di wilayah yang paling parah terdampak. “Saya juga menginstruksikan agar pemulihan jalan dan jembatan di wilayah terdampak segera dilaksanakan sehingga konektivitas masyarakat dapat kembali normal,” tuturnya pada rapat perpanjangan ketiga status tanggap darurat di ruang rapat Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor Aceh, di kantor Gubernur Aceh, Kamis (8/1/2026).
Hingga saat ini, masih ada daerah yang terisolir dari bantuan. Mualem mengharapkan semua pihak terkait seperti SKPA, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat untuk bekerja sama mempercepat pemulihan Aceh.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Kepulauan Sitaro, 16 Orang Meninggal Dunia


