CampusNet – Memasuki awal semester baru, masyarakat Aceh masih harus berjuang menghadapi kondisi pascabencana banjir yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Jejak bencana terlihat jelas di berbagai sudut kota. Bangunan rusak berjajar di sepanjang jalan, mulai dari rumah warga, swalayan, hingga sekolah. Bahkan, tak sedikit bangunan yang hanyut terbawa banjir. Sementara itu, bangunan yang masih berdiri pun berada dalam kondisi memprihatinkan karena tertimbun lumpur tebal.
Menurut laporan Kompas.com, sebanyak 747 sekolah di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, masih tertutup lumpur hingga Senin (12/01/2026). Sejak saat itu, relawan bersama TNI dan Polri turun langsung membantu proses pembersihan. Namun, banyaknya sekolah terdampak serta luasnya area yang harus dibersihkan, mulai dari ruang kelas hingga pekarangan dan akses jalan, membuat proses pemulihan diperkirakan memerlukan waktu yang tidak singkat.
Sementara menunggu proses pembersihan selesai, sejumlah sekolah menggelar pembelajaran di tenda pengungsian. Kondisi ini terjadi di SDN 6 Langkahan, Aceh Utara. Para guru mendatangi posko pengungsian untuk memulai kegiatan belajar di semester baru. Pada hari pertama, guru mengajak siswa menonton film kartun bersama. Kegiatan ini bertujuan membantu pemulihan trauma akibat banjir yang mereka alami. Tanpa seragam dan tanpa alat tulis, para siswa tetap mengikuti pembelajaran perdana mereka di dalam tenda pengungsian.
Namun demikian, jumlah siswa yang hadir belum sepenuhnya normal. Dikutip dari BBC Indonesia, hanya 340 siswa yang mengikuti hari pertama sekolah dari total 450 siswa SDN 6 Langkahan. Banyak orang tua berharap pembelajaran bisa segera kembali dilakukan di ruang kelas. Mereka mengkhawatirkan kondisi tenda pengungsian yang berdebu dan kurang sehat. Lingkungan sekitar posko dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan bagi anak-anak.
Banjir Susulan, Sejumlah Sekolah Kembali Terendam
Di tengah upaya pemulihan, hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir susulan di sejumlah wilayah Aceh. Salah satunya terjadi di Kabupaten Pidie Jaya. Mengutip laporan Metro TV, ketinggian banjir mencapai sekitar 40 sentimeter di area sekolah dan hingga satu meter di kawasan permukiman warga. Akibatnya, beberapa sekolah yang sebelumnya sudah dibersihkan dari lumpur kembali terendam air.
Kondisi tersebut juga dialami oleh TK dan PAUD Yayasan Ceudah Mulya yang berada di kawasan Gampong Mesjid Tuha, Pidie Jaya. Sebelumnya, ruang kelas di sekolah tersebut telah dibersihkan dan pembelajaran direncanakan untuk kembali dimulai. Namun, banjir susulan membuat ruang kelas kembali tergenang air. Pekarangan sekolah serta akses jalan menuju lokasi pendidikan pun ikut tertutup lumpur dan air. Dengan kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar tidak memungkinkan untuk dilaksanakan di sekolah. Oleh karena itu, kegiatan sekolah kembali dipindahkan ke tenda darurat pengungsian.
Baca juga: Belum Sepenuhnya Pulih, Masa Tanggap Darurat Aceh Kembali Diperpanjang


