CampusNet – Di tengah ramainya jurusan favorit seperti Sastra Inggris dan Sastra Jepang, sejumlah jurusan sastra di perguruan tinggi Indonesia seringkali luput dari sorotan. Padahal, beberapa kampus membuka program studi sastra yang tergolong langka. Kelangkaan ini menjadikan beberapa jurusan sastra tersebut mendapatkan peminat yang relatif sedikit, namun memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi.
Berikut Daftar 7 Jurusan Sastra yang masih langka di Indonesia:
1. Sastra Belanda
Program Studi Sastra Belanda akan mempelajari segala hal mengenai Belanda, di antaranya adalah bahasa, politik, serta kebudayaannya. Tak hanya fokus pada keahlian berbahasa, mahasiswa Sastra Belanda juga akan mendalami kesastraan, sejarah, hingga kemampuan linguistik Belanda. Beberapa mata kuliah yang akan dipelajari adalah Bahasa Belanda I – III, fonetik-fonologi Belanda, dan Sastra Hindia Belanda
Lulusan Sastra Belanda memiliki prospek kerja yang besar di instansi pemerintah seperti Kementerian Luar Negeri, mengingat eratnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Belanda. Selain itu, lulusan Sastra Belanda juga dapat menjadi interpreter Bahasa Belanda. Meskipun sekilas mirip dengan penerjemah, interpreter berbeda dengan penerjemah karena membutuhkan fokus tinggi saat menerjemahkan secara lisan.
Jurusan Sastra Belanda hanya terdapat di satu perguruan tinggi di Indonesia, yakni Universitas Indonesia. Pada SNBP 2024, peminatnya berjumlah 248 orang dan pada SNBP 2025, daya tampungnya sebesar 24 orang. Lulusan terkenal dari program studi ini adalah politisi Rieke Dyah Pitaloka dan pendakwah Oki Setiana Dewi.
2. Sastra Rusia
Prodi ini dikhususkan bagi mahasiswa yang berminat untuk memperluas pengetahuan kesusastraan Rusia. Kesusastrraan tersebut nantinya akan diklasifikasikan menjadi koridor gramatika, percakapan, penerjemah, dan kajian wilayah serta kebudayaan Rusia. Program Studi ini tersedia di Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran.
Kesusastraan Ruasia dewasa ini digemari karena iklim Asia Timur yang sedang bergejolak. beberapa pekerjaan yang bisa didapatkan sebagai lulusan Sastra Rusia adalah interpreter, tenaga pengajar, ahli budaya, dan politisi luar negeri. Salah satu lulusan Sastra Rusia yang terkenal adalah Soesilo Toer, adik dari Pramudya Ananta Toer.
3. Sastra Jawa
Program Studi Sastra Jawa salah satunya terdapat di Universitas Gadjah Mada, terintegrasi dalam Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Sastra Jawa mengajak mahasiswa untuk menjadi “detektif” sejarah dengan mendalami berbagai naskah kuno (filologi) dari berbagai daerah di Indonesia,menitikeratkan pada bahasa Jawa termasuk bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta. Fokus utamanya adalah memahami akar identitas bangsa melalui teks-teks klasik yang menyimpan pemikiran leluhur, tradisi, hingga hukum adat yang ada. Program Studi Sastra Jawa juga memiliki laboratorium masyarakat, yang memungkinkan mahasiswa melakukan pembelajaran di lapang.
Lulusan dari jurusan ini memiliki nilai eksklusivitas tinggi karena kemampuan langka mereka dalam membaca dan merawat naskah yang hampir punah. Peluang kariernya sangat spesifik, mulai dari peneliti di lembaga arsip nasional, kurator museum, hingga konsultan ahli kebudayaan yang memiliki peran penting untuk menjaga warisan sejarah tetap relevan di masa kini.
4. Sastra Bali
Di Sastra Bali, selain mempelajari komunikasi, mahasiswanya juga membedah struktur bahasa, seni pertunjukan, hingga filosofi hidup masyarakat Bali yang tertuang dalam karya sastra tulis. Jurusan ini menjadi wadah untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai tradisional Bali mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Jurusan ini terdapat di Universitas Udayana. Keunikan jurusan ini terletak pada perannya yang sangat vital bagi industri pariwisata berbasis budaya di Indonesia. Lulusannya menjadi incaran untuk mengisi posisi strategis di sektor pariwisata high-end, edukator budaya, hingga praktisi seni yang mampu menjelaskan makna filosofis di balik setiap tradisi kepada dunia internasional.
5. Sastra Batak
Sastra Batak menawarkan pendalaman terhadap kekayaan tradisi lisan dan tulisan, termasuk penguasaan Aksara Batak yang menjadi warisan budaya. Mahasiswa program studi ini akan mendapatkan pengayaan dalam berbagai dialek Batak seperti Toba, Karo, Dairi, dan lain-lain. Mahasiswa juga akan mempelajari bagaimana struktur bahasa dan sastra Batak berperan dalam menjaga tatanan sosial serta memperkuat kohesi budaya di tengah masyarakat yang terus berkembang.
Menariknya, lulusan Sastra Batak memegang peran kunci sebagai pelestari keberagaman linguistik Indonesia agar tidak tergerus arus modernisasi. Mereka memiliki peluang karir sebagai ahli bahasa, peneliti sosiolinguistik, hingga jurnalis spesialis kebudayaan yang mampu mengangkat kearifan lokal ke kancah nasional maupun global.
Satu-satunya kampus yang memiliki program studi Sastra Batak adalah Universitas Sumatera Utara. Dengan akreditasi Baik Sekali, USU memiliki visi untuk menjadi pusat kajian budaya batak yang unggul di Indonesia.
6. Bahasa dan Kebudayaan Korea
Ramainya tren budaya Korea membuat jurusan ini menjadi primadona baru di Indonesia. Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea menawarkan pemahaman mendalam mengenai bahasa, sejarah, dan strategi budaya populer Korea Selatan. Mahasiswa tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga menganalisis fenomena Korean Wave (Hallyu) yang telah mengubah peta diplomasi budaya dunia dalam beberapa dekade terakhir.
Sedikit berbeda dengan sastra tradisional, lulusan Sastra Korea memiliki prospek kerja yang sangat luas di perusahaan multinasional, agensi hiburan, hingga instansi diplomatik. Mereka nantinya akan menjadi jembatan strategis dalam hubungan bisnis dan kerjasama kreatif antara Indonesia dan Korea yang saat ini sedang berada di masa keemasan. Beberapa kampus yang menyediakan jurusan ini ialah:
- Universitas Gadjah Mada
- Universitas Indonesia
- Universitas Nasional, dan
- Universitas Pendidikan Indonesia
7. Sastra Jerman
Sastra Jerman memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menyelami dunia pemikiran para filsuf dan sastrawan besar yang membentuk peradaban Eropa. Selain penguasaan bahasa secara lisan dan tulisan, mahasiswa juga akan diajak menganalisis karya-karya literatur klasik yang menjadi pondasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Lulusan jurusan ini memiliki keunggulan kompetitif sebagai gerbang penghubung menuju inovasi di Eropa. Dengan kemampuan analisis yang tajam, mereka berpeluang besar meniti karier sebagai diplomat, penerjemah teknis untuk perusahaan sains Jerman, hingga tenaga ahli di lembaga-lembaga kerja sama internasional seperti Goethe-Institut. Terdapat tiga perguruan tinggi yang menyediakan program studi Sastra Jerman, yaitu:
- Universitas Indonesia
- Universitas Padjadjaran
- Universitas Negeri Semarang, da
- Universitas Samratulangi
Keberadaan jurusan-jurusan tersebut menunjukkan bahwa studi sastra di Indonesia tidak hanya berkutat pada bahasa yang populer secara global, tetapi juga pada pelestarian bahasa dan budaya yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah bangsa. Meski kadang terasa eksklusif, jurusan sastra langka ini tetap bertahan sebagai ruang akademik untuk menjaga keberagaman linguistik dan warisan budaya di tengah arus modernisasi pendidikan tinggi.
Baca Juga: Benarkah Prospek Kerja Jurusan Bahasa dan Sastra Terbatas?


