CampusNet – Di Indonesia, banyak kasus besar tidak pernah benar-benar selesai.
Banjir datang silih berganti, tragedi kemanusiaan terjadi, lingkungan rusak, korban berjatuhan. Publik marah, media ramai, linimasa penuh empati. Namun beberapa minggu kemudian, semuanya sunyi.
Bukan karena masalahnya sudah tuntas.
Melainkan karena berhenti dibicarakan.
Fenomena ini bukan kebetulan. Dalam kajian komunikasi massa, ada konsep penting yang menjelaskannya: Agenda Setting.
Media Tidak Mengatur Pikiran, Tapi Mengatur Perhatian
Agenda Setting adalah teori yang menjelaskan bahwa media massa punya kekuatan untuk menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik. Bukan dengan menyuruh masyarakat berpikir atau percaya sesuatu, tetapi dengan memilih topik apa yang terus ditampilkan dan mana yang dibiarkan menghilang.
Sederhananya, apa yang sering muncul di berita dan linimasa akan terasa penting. Sebaliknya, isu yang jarang dibahas—seberapapun besar dampaknya—akan perlahan terlupakan.
Media bekerja seperti lampu sorot. Isu yang disinari terang terlihat besar dan mendesak. Yang berada di luar cahaya, tenggelam dalam gelap.
Tragedi Itu Berat, Gosip Itu Ringan
Masalahnya, tragedi tidak ramah terhadap logika industri media hari ini. Liputan banjir, pelanggaran HAM, kekerasan aparat, atau kerusakan lingkungan membutuhkan waktu panjang, konsistensi, dan keberanian. Liputan semacam itu mahal, melelahkan, dan berisiko secara politik maupun ekonomi.
Sebaliknya, gosip selebriti, drama personal, dan konflik receh menawarkan sesuatu yang berbeda: murah diproduksi, cepat viral, dan aman. Tidak menyinggung kekuasaan, tidak menuntut akuntabilitas, dan tidak memancing tekanan.
Dalam sistem media yang digerakkan oleh klik, engagement, dan iklan, pilihan itu menjadi rasional—meski secara moral problematis.
Akibatnya, yang penting sering kalah oleh yang menghibur.
Lupa Bukan Kecelakaan, Tapi Pola
Ketika tragedi berhenti muncul di headline, publik tidak serta-merta lupa karena tidak peduli. Banyak orang lelah marah, lelah berharap, dan lelah menunggu kejelasan. Di titik inilah pengalihan fokus bekerja.
Agenda Setting tidak melarang orang membicarakan satu isu. Ia cukup memastikan ada cukup banyak hal lain yang lebih ringan untuk dibicarakan. Perlahan, perhatian berpindah. Emosi mereda. Tekanan publik melemah.
Dalam kondisi seperti ini, waktu menjadi sekutu paling setia bagi ketidakadilan.
Bukan karena hukum bekerja, tetapi karena ingatan publik memudar.
Siapa yang Diuntungkan dari Sunyi?
Korban jelas bukan pihak yang diuntungkan. Masyarakat pun tidak. Yang diuntungkan adalah mereka yang berkepentingan agar kasus tidak terus disorot—entah karena tanggung jawab, kelalaian, atau keterlibatan langsung.
Selama publik lupa, tidak ada urgensi.
Selama tidak ada urgensi, tidak ada tekanan.
Selama tidak ada tekanan, tidak ada perubahan.
Inilah mengapa banyak kasus di Indonesia tidak perlu dibungkam secara keras. Cukup dibiarkan tenggelam oleh kebisingan lain.
Melawan Lupa adalah Tindakan Politik
Mengikuti isu secara konsisten, mengingat korban, dan terus bertanya “apa kelanjutannya?” mungkin terlihat sepele. Namun di tengah budaya lupa yang sistemik, tindakan itu justru bersifat politis.
Agenda Setting bisa mengatur fokus publik, tetapi publik juga punya pilihan untuk melawan arus: mengingat ketika diminta lupa, dan bertanya ketika diminta diam.
Karena keadilan jarang benar-benar kalah di pengadilan.
Di Indonesia, ia lebih sering kalah di timeline.
Baca juga: Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Sementara Kasus HAM di Dalam Negeri Masih Menggantung


