CampusNet – Dua mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan inovasi pemanfaatan limbah rumah tangga dan sampah kampus menjadi briket arang organik atau bio-briket. Ide ini dilatarbelakangi keinginan untuk mencari solusi energi alternatif sekaligus mengurangi limbah organik yang sering dibuang begitu saja di lingkungan kampus.
Inovasi ini dikembangkan oleh Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro dari program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi, Fakultas Teknologi Industri ITB. Mereka memanfaatkan sabut kelapa yang berasal dari limbah rumah tangga dan daun kering di sekitar kampus untuk bahan utama pembuatan bio-briket.
Bahan dan Cara Pembuatan Bio-Briket
Bio-briket yang dibuat ini terdiri dari dua bahan utama yang dipilih karena karakteristiknya yang saling melengkapi. Daun kering mudah menyala karena kandungan volatilnya, sementara serabut kelapa memiliki struktur lignin tinggi yang membuat briket lebih tahan lama saat dibakar. Proses pembuatannya meliputi langkah-langkah berikut:
- Pengeringan bahan – Sabut kelapa dan daun kering dikeringkan terlebih dahulu.
- Karbonisasi – Bahan organik dikarbonisasi dalam wadah tertutup hingga menjadi arang.
- Penghalusan dan pencampuran – Arang dihaluskan kemudian dicampur dengan perekat alami berupa pati tapioka.
- Pencetakan dan pengeringan – Campuran dicetak secara manual dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2–3 hari hingga siap pakai.
Dengan kombinasi bahan tersebut, bio-briket ini menghasilkan pembakaran yang lebih efisien dan lebih sedikit asap serta bau dibandingkan dengan pembakaran limbah langsung. Selain itu, abu sisa pembakaran masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, menjadikannya lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Potensi Ekonomi dan Tantangan Pengembangan
Bio-briket ini dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi energi alternatif bagi rumah tangga maupun usaha kecil. Secara ekonomis, biaya produksi bisa berada di kisaran Rp500–1.000 per briket, sementara harga jual yang realistis adalah sekitar Rp1.500–2.000 per briket, sehingga tetap menawarkan keuntungan jika diproduksi dalam skala yang lebih besar.
Meski demikian, pengembangan produk ini masih menghadapi tantangan. Beberapa di antaranya adalah standarisasi komposisi bahan baku dan konsistensi proses pengeringan, yang sangat penting untuk menjamin kualitas dan performa briket.
Untuk tahap selanjutnya, tim berencana melakukan pengujian nilai kalor dan emisi secara kuantitatif di laboratorium serta menetapkan standar kualitas produksi. Mereka juga ingin bekerja sama dengan bank sampah dan UMKM lokal guna membangun model ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Inovasi bio-briket hasil karya mahasiswa ITB menunjukkan bahwa limbah rumah tangga seperti sabut kelapa dan daun kering dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Produk ini tidak hanya mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis energi terbarukan. Ke depan, pengembangan lebih lanjut diharapkan dapat memperkuat potensi produk ini sebagai solusi energi masa depan.


