Dari Batu Petir ke Bangku Farmasi: Ponari dan Perubahan Cara Kita Percaya

CampusNet – Nama Ponari pernah menjadi fenomena nasional. Sekitar tahun 2009, bocah asal Jombang, Jawa Timur itu dipercaya masyarakat mampu menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan sebuah batu yang direndam ke dalam air. Ribuan orang datang, antre berjam-jam, bahkan menutup akses jalan desa. Media meliput, aparat turun tangan, dan peristiwa itu menjadi salah satu contoh paling ekstrem dari kepercayaan publik terhadap pengobatan non-medis di Indonesia.

Lebih dari satu dekade berlalu, Ponari kini menjalani hidup yang sangat berbeda. Tanpa sorotan, tanpa klaim penyembuhan, ia diketahui menjadi mahasiswa farmasi. Tidak lagi dikelilingi pasien, melainkan buku, praktikum, dan laporan ilmiah.

Perubahan ini terasa ironis, sekaligus simbolik.

Dari Sugesti Massal ke Ilmu Berbasis Bukti

Fenomena “batu petir” Ponari pada masanya tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial. Akses layanan kesehatan yang belum merata, biaya pengobatan yang mahal, serta rendahnya literasi kesehatan membuat masyarakat mudah menggantungkan harapan pada solusi instan. Dalam kondisi seperti itu, sugesti kolektif bekerja kuat. Banyak orang merasa sembuh—atau setidaknya merasa punya harapan.

Namun waktu berjalan. Sains berkembang. Dan kepercayaan publik pun diuji.

Keputusan Ponari untuk menempuh pendidikan farmasi menghadirkan kontras yang tajam. Dari sesuatu yang dahulu dipercaya tanpa uji, ia kini mempelajari dunia yang justru berdiri di atas uji klinis, dosis terukur, mekanisme kerja obat, dan standar keselamatan. Jika dulu “kesembuhan” hadir lewat narasi dan keyakinan, kini ia dipelajari lewat data dan metode ilmiah.

Sunyi, tapi Bermakna

Menariknya, perjalanan ini terjadi tanpa klarifikasi besar di ruang publik. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada pembelaan masa lalu. Tidak ada upaya memanfaatkan nama lama. Ponari memilih jalur sunyi—menjadi mahasiswa biasa di tengah ribuan mahasiswa lain.

Di tengah budaya digital yang sering mendorong sensasi dan personal branding, pilihan ini justru terasa kuat. Ia tidak mengulang narasi lama, juga tidak menolaknya secara demonstratif. Ia hanya bergerak maju.

Bukan Sekadar Tentang Ponari

Kisah ini sejatinya bukan hanya tentang satu individu. Ia adalah cermin perubahan cara kita sebagai masyarakat memandang pengetahuan dan otoritas. Dulu, kita pernah percaya bahwa batu bisa menyembuhkan penyakit serius. Hari ini, kita dituntut lebih kritis—memilah antara harapan, sugesti, dan bukti ilmiah.

Fenomena Ponari mengingatkan bahwa masalah utamanya bukan pada anak yang pernah dipercaya “punya kekuatan”, melainkan pada sistem sosial yang membuat kepercayaan semacam itu tumbuh subur. Dan perubahan Ponari hari ini menunjukkan bahwa orang bisa tumbuh, sementara masyarakat belajar—meski sering terlambat.

Pelajaran yang Tertinggal

Dari batu petir ke bangku farmasi, perjalanan Ponari menyimpan satu pesan penting:
kepercayaan tanpa ilmu bisa menyesatkan, tapi ilmu tanpa empati juga tak cukup. Tantangan ke depan bukan hanya memperkuat sains, melainkan memastikan sains hadir, terjangkau, dan dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok