Anak SD di NTT Bunuh Diri karena Buku Rp10 Ribu: Di Mana Letak “Indonesia Negara Paling Bahagia”?

CampusNet – Kasus meninggalnya seorang anak kelas 4 SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena diduga bunuh diri akibat tidak mampu membeli buku dan pena menjadi peristiwa yang mengguncang nurani publik. Anak berusia sekitar 10 tahun itu menghadapi tekanan ekonomi yang seharusnya tidak pernah menjadi beban seorang anak.

Tragedi ini terjadi di tengah pernyataan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan rakyat paling bahagia di dunia. Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kebahagiaan itu benar-benar dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia?

Kebahagiaan Nasional Tidak Bisa Diukur dari Statistik Saja

Klaim “negara paling bahagia” umumnya bersandar pada indikator makro: pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, atau indeks kebahagiaan berbasis survei. Namun indikator tersebut sering kali tidak mampu menangkap realitas kehidupan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Bagi anak di NTT tersebut, kebahagiaan bukan soal pertumbuhan ekonomi nasional atau optimisme pembangunan, melainkan akses terhadap kebutuhan pendidikan paling dasar. Ketika buku dan pena menjadi kemewahan, maka klaim kebahagiaan nasional kehilangan pijakan realitas.

Ketimpangan Sosial Masih Menjadi Masalah Serius

Kasus ini menunjukkan bahwa ketimpangan sosial di Indonesia masih nyata dan berdampak langsung pada kehidupan anak-anak. Hak atas pendidikan yang layak, sebagaimana dijamin oleh konstitusi, belum sepenuhnya terwujud secara merata.

Anak tersebut tidak hanya berhadapan dengan kemiskinan ekonomi, tetapi juga dengan tekanan psikologis akibat rasa tidak mampu dan ketakutan tertinggal di sekolah. Ini menandakan lemahnya sistem perlindungan sosial dan pendampingan psikologis bagi anak-anak dari keluarga rentan.

Negara Hadir Setelah Tragedi Terjadi

Respons negara dan pejabat publik umumnya muncul setelah peristiwa ini viral: pernyataan duka, janji evaluasi, dan rencana bantuan. Namun kehadiran negara yang ideal seharusnya bersifat preventif, bukan reaktif.

Jika sistem bantuan pendidikan, pendataan keluarga miskin, dan pendampingan sekolah berjalan efektif, tragedi semacam ini seharusnya bisa dicegah. Kehilangan satu nyawa anak adalah indikasi kegagalan serius dalam tata kelola kesejahteraan sosial.

Kebahagiaan Harus Dimulai dari yang Paling Rentan

Pernyataan bahwa Indonesia adalah negara dengan rakyat paling bahagia perlu diuji dari bawah, bukan dari atas. Ukuran paling jujur dari kebahagiaan nasional adalah kondisi kelompok paling rentan: anak-anak, masyarakat miskin, dan wilayah tertinggal.

Selama masih ada anak yang kehilangan harapan hidup karena kemiskinan ekstrem, maka klaim kebahagiaan nasional patut dikaji ulang. Kebahagiaan sejati bukan sekadar narasi politik, melainkan kondisi nyata di mana setiap warga negara merasa aman, diperhatikan, dan memiliki masa depan.

Penutup

Tragedi anak SD di NTT bukan sekadar kabar duka, tetapi peringatan serius bagi negara. Kebahagiaan tidak bisa dideklarasikan sepihak, apalagi dijadikan simbol keberhasilan tanpa memastikan realitas di lapangan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia terlihat bahagia di mata dunia, melainkan apakah seluruh rakyatnya benar-benar merasakan kebahagiaan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok