CampusNet – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren angka yang sangat unik. Kelompok berpendidikan rendah justru memiliki tingkat pengangguran paling kecil. Kelompok lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah hanya mencatat angka sekitar 2,22 persen. Angka ini jauh lebih rendah daripada lulusan universitas atau SMK.
Mengutip dari berita CNBC Indonesia, kondisi ini merupakan sebuah paradoks. Lulusan sarjana biasanya memilih menunggu pekerjaan yang benar-benar cocok. Namun, lulusan SD tidak memiliki kemewahan untuk melakukan hal itu. Mereka harus segera bekerja demi menyambung hidup keluarga. Oleh karena itu, mereka langsung menyerap pekerjaan apa saja.
Alasan Ekonomi Lulusan SD Cepat Terserap Kerja
Sektor informal saat ini menampung sebagian besar tenaga kerja pendidikan rendah. Pekerjaan kasar seperti buruh tani atau pedagang asongan sangat terbuka lebar. Lapangan kerja informal ini tidak mewajibkan syarat administrasi yang sulit. Selain itu, lulusan SD memiliki standar ekspektasi gaji yang sangat realistis. Mereka lebih mengutamakan pendapatan harian daripada mengejar posisi formal.
Tekanan finansial yang besar memaksa mereka untuk tetap bergerak produktif. Mereka bekerja hanya untuk menyambung hidupnya, sehingga menganggur bagi mereka berarti tidak ada makanan tersedia di meja. Ironisnya, lulusan sekolah menengah justru lebih banyak terjebak masa tunggu. Hal tersebut dapat terjadi karena struktur ekonomi kita masih mengandalkan sektor padat karya. Pekerjaan fisik tetap menjadi primadona di pasar kerja lokal. Kondisi ini membuat penyerapan tenaga kerja kasar sangat besar, sehingga lulusan SD dianggap relevan untuk mengisi pekerjaan tersebut.
Selain itu, fleksibilitas mereka dalam bekerja sangat membantu angka statistik. Mereka bersedia berpindah-pindah lokasi kerja demi upah yang ada. Lulusan pendidikan tinggi sering kali memikirkan kelebihan dan kekurangan masing-masing pekerjaan. Sebaliknya, kelompok lulusan SD menganggap semua pekerjaan adalah peluang berharga karena mereka tidak memiliki kemewahan untuk menimbang baik-buruknya suatu pekerjaan. Mereka juga harus dapat mengalahkan kotor atau lelah demi rasa kenyang. Mentalitas bertahan hidup inilah yang menyelamatkan mereka dari statistik pengangguran.
Kualitas Hidup dan Nasib Pekerja Masa Depan
Kita harus berani melihat kualitas hidup para pekerja ini secara jujur. Sebagian besar dari mereka masuk dalam kelompok pekerja rentan. Mereka biasanya bekerja tanpa kontrak formal atau jaminan hari tua. Selain itu, penghasilan mereka sering kali berada di bawah standar. Jadi, angka pengangguran rendah bagi lulusan SD tidak dapat disebut sebagai indikator kesejahteraan.
Pemerintah memiliki peran untuk memberikan perhatian lebih serius pada kesejahteraan buruh informal. Fokus kebijakan jangan hanya mengejar angka statistik yang terlihat indah. Perlindungan hukum bagi para pekerja kasar harus segera diperkuat. Kita perlu menjamin masa depan mereka agar menjadi lebih layak. Martabat manusia harus lebih dipertimbangkan daripada sekadar angka statistik. Keadilan ekonomi harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Baca juga: Belum Setengah Jalan, Sudah Bicara Dua Periode


