CampusNet – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan seluruh sekolah terdampak bencana kembali melaksanakan pembelajaran di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kemendikdasmen mempercepat pemulihan tersebut dengan menetapkan revitalisasi prasarana pendidikan di tiga provinsi terdampak sebagai prioritas utama tahun ini.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan komitmen itu dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Wilayah Sumatra. Mengutip dari siaran Kemendikdasmen, ia menegaskan kementrian mengalokasikan dana revitalisasi sekolah di Aceh dan Sumatera dari prioritas anggaran revitalisasi 2026.
Data Kerusakan Sekolah di Tiga Provinsi
Dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Menteri Abdul Mu’ti memaparkan data kerusakan sekolah pascabencana. Mendikdasmen mencatat setidaknya 4.863 sekolah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Secara rinci terdata sebanyak 3.409 sekolah rusak ringan dan 925 sekolah rusak sedang. Kemudian tercatat juga 437 sekolah rusak berat dan 92 sekolah harus direlokasi demi keselamatan.
Jumlah sekolah paling terdampak tercatat di Aceh dengan jumlah mencapai 3.073 sekolah. Kemudian disusul dengan Sumatra Utara 1.168 sekolah dan Sumatra Barat 622 sekolah.
Pemulihan Pembelajaran di Tiga Provinsi
Meski banyak bangunan sekolah mengalami kerusakan, Kemendikdasmen memastikan pembelajaran kembali berjalan penuh. Menteri Abdul Mu’ti menyatakan kementrian telah memulihkan pelaksanaan pembelajaran hingga 100 persen per 11 Februari 2026.
Di Aceh, sebanyak 3.001 sekolah kembali menggunakan gedung asal, 52 sekolah masih belajar di tenda darurat, dan 20 sekolah menumpang sementara. Di Sumatra Utara, tercatat 1.142 sekolah kembali ke sekolah asal dan 26 sekolah masih menggunakan tenda darurat. Sementara itu, di Sumatra Barat, sebanyak 599 sekolah kembali ke gedung asal, 21 sekolah masih belajar di tenda darurat, dan dua sekolah menumpang sementara.
Menteri Mu’ti juga mencatat penurunan jumlah sekolah darurat secara signifikan. Kemendikdasmen mengurangi sekolah yang belajar di tenda dari 129 menjadi 99 sekolah. Kemendikdasmen juga menekan jumlah sekolah menumpang dari 27 menjadi 22 sekolah.
Progres Revitalisasi Sekolah Terdampak Bencana
Selain memulihkan pembelajaran, Kemendikdasmen mempercepat revitalisasi satuan pendidikan terdampak. Hingga 10 Februari 2026, kementrian menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk 654 sekolah.
Mendikdasmen menjelaskan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp786,5 miliar untuk program tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak Rp168,6 miliar sudah dicairkan kepada 214 sekolah.
Kemendikdasmen menargetkan pencairan dana lanjutan pada pertengahan Februari 2026 dan berencana akan menyiapkan penandatanganan PKS tambahan untuk 1.153 sekolah. Menteri Mu’ti menegaskan pemerintah akan melanjutkan percepatan revitalisasi ini hingga pekan ketiga Februari 2026.
Kesimpulan
Kemendikdasmen memprioritaskan revitalisasi sekolah di tiga provinsi terdampak bencana, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat karena banyak prasarana pendidikan mengalami kerusakan. Melalui alokasi anggaran prioritas dan percepatan pencairan dana, kementerian menargetkan perbaikan sarana pendidikan selesai sesuai jadwal. Kemendikdasmen juga memastikan seluruh sekolah terdampak kembali melaksanakan pembelajaran dan bisa pulih 100 persen.
Baca juga: Kembali Sekolah Pascabencana, Tenda Pengungsian Jadi Ruang Kelas di Aceh


