CampusNet – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menghadirkan inovasi teknologi inklusif berbasis sensor ultrasonik yang membantu mobilitas penyandang tunanetra. Alat ini dikembangkan oleh tim dari Program Studi Teknik Industri sebagai bagian dari proyek perkuliahan yang kemudian dipamerkan dalam IE EXPO 2026 jurusan tersebut.
Inovasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa dapat mentransformasikan ide tugas kuliah menjadi solusi teknologi dengan nilai sosial tinggi dan dampak nyata untuk masyarakat.
Teknologi Sensor Ultrasonik yang Responsif
Perangkat bantu berupa alat pendeteksi jarak ini dirancang untuk bekerja secara hands-free dengan memanfaatkan teknologi sensor ultrasonik. Sensor ini berfungsi untuk mengukur jarak antara pengguna dan objek di sekitarnya. Ketika sensor mendeteksi objek, alat akan memberikan umpan balik berupa getaran kepada pengguna dengan intensitas yang berbeda-beda sesuai jarak objek tersebut.
Semakin dekat objek terdeteksi, semakin kuat getaran yang dihasilkan. Mekanisme ini membantu penyandang tunanetra untuk mengantisipasi rintangan di sekitarnya tanpa perlu kontak fisik langsung dengan lingkungan.
Awal Ide dan Proses Pengembangan
Ide perangkat ini muncul dari sebuah diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas mata kuliah oleh mahasiswa angkatan 2023: Naufal Adrien Atalla, Dyandini Faradiba Putri, Mirza Zaky, Farrel Adrien, dan Chandra Adi. Mereka mulai dari gagasan sederhana dan kemudian memperdalam riset untuk menciptakan solusi yang benar-benar aplikatif bagi penyandang tunanetra.
Menurut salah satu pengembang, tantangan utama dalam pembuatan perangkat ini terletak pada pemrograman sistem sensor dan umpan balik getaran sehingga dapat memberikan respons yang tepat dalam berbagai kondisi.
Respon dan Potensi Pengembangan
Prototipe perangkat telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 dan mendapat respons positif dari para juri. Meskipun alat tersebut belum diuji secara langsung oleh penyandang tunanetra, evaluasi internal menunjukkan bahwa fungsi dasar sensor dan getaran sudah bekerja dengan baik sesuai harapan.
Tim inovator menegaskan bahwa perangkat ini bukan untuk menggantikan tongkat konvensional sepenuhnya, tetapi menjadi pelengkap yang memberikan peringatan dini terhadap rintangan. Pengerjaan selanjutnya difokuskan pada penyempurnaan desain agar ukuran komponen dapat diperkecil dan alat bisa dikembangkan menjadi wearable device yang lebih ergonomis dan praktis.
Inovasi Teknologi yang Berkelanjutan
Dosen pembimbing proyek menyatakan bahwa inovasi seperti ini penting karena teknologi yang menyasar kebutuhan spesifik penyandang disabilitas masih jarang ditemukan di pasar saat ini. Dukungan dari kampus dan pihak lain diharapkan dapat mempercepat pengembangan alat ini agar siap diaplikasikan lebih luas di masyarakat.
Melalui karya tersebut, UMM menunjukkan bahwa integrasi riset, keterampilan teknis, dan sosial dapat menghasilkan teknologi yang bermakna, sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat.


