CampusNet – Kabar baik kembali mendapatkan perhatian di kalangan mahasiswa. Karena pasalnya mahasiswa ITB kembali mengembangkan inovasi di dunia pendidikan tidak mau kalah dari mahasiswa di universitas lain. Tentunya dengan inovasi yang berkaitan dengan bidang kampus mereka. Setelah Mahasiswa UMM ciptakan alat pendeteksi risiko kehamilan, mahasiswa ITB tidak mau kalah dengan berinovasi di bidang pestisida pertanian.
Inovasi biopestisida ini meraih juara 1 Esai Kategori Mahasiswa dan Best Paper di ajang Agritech Innovations Competition (AIC). AIC merupakan lomba esai nasional dengan mahasiswa seluruh Indonesia sebagai pesertanya. Dengan tema kunci kestabilan agrikultur dan keamanan pangan, AIC memberikan kesempatan kepada ide-ide segar mahasiswa. Khususnya dalam kontribusi pemikiran tersebut untuk keamanan pangan nasional. Maka, esai yang terpilih sebagai juara pastinya memiliki nilai yang menjadi kebutuhan keamanan dan kestabilan agrikultur secara nasional maupun global.
Inovasi Biopestisida yang menjadi ide mahasiswa ITB mendapatkan penghargaan karena mampu menggabungkan keamanan pangan dan teknologi nano terbaru. Lantas, bagaimana solusi Biopestisida ini bisa menang dan memberikan dampak secara praktis ke depannya?
Solusi dari Inovasi Biopestisida ITB
Melansir dari website resmi ITB, inovasi biopestisida ini adalah modifikasi dari konsep biopestisida yang sudah ada. Bedanya adalah inovasi biopestisida menjawab masalah biopestisida konvensional yang memiliki daya simpan yang pendek. Dengan berbasis teknologi nano, inovasi biopestisida yang baru menawarkan pendekatan baru pengendalian hama yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Solusi biopestisida ini juga mengatasi permasalahan petani yang sering berganyung pada pestisida sintetis yang kurang ramah lingkungan. Dari segi biopestisida konvensional, inovasi ini mengatasi daya simpan pendek yang biasa terjadi karena cahaya, suhu, dan kelembapan. Sehingga, meski ramah lingkungan, biopestisida konvensional tidak bisa bertahan lama pada kondisi di negara tropis, seperti Indonesia. Dari permasalahan tersebut, mahasiswa ITB berusaha melindungi dan mengontrol pelepasan bahan aktif secara perlahan menggunakan teknologi nano.
Nasib Biopestisida ke Depannya
Mahasiswa ITB pencetus inovasi ini berharap temuan yang sudah mereka mereka menangkan ini bisa berguna secara praktis di masyarakat. Pasalnya, mereka tidak ingin temuan ini hanya sebatas kajian ilmu semata. Melainkan bisa menjadi salah satu langkah ke depannya untuk pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Selain dari sisi akademisi, pihak pemangku kebijakan dan industri tentu perlu mengawasi inovasi dan memberikan arahan untuk keberlanjutan ke depannya. Tentu dari segi kebijakan, akan sangat bijak mengapresiasi temuan dari anak bangsa dan menerapkannya langsung di masyarakat. Dari segi industri, temuan ini bisa menjadi peluang bisnis yang baik apabila teruji secara ilmiah dan bermanfaat nyata. Sehingga apa yang menjadi keinginan para pemenang inovasi bisa terealisasi untuk kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: Mahasiswa Undhiksa Raih Perunggu di Malaysia Lewat Inovasi Piesolar!


