CampusNet – Pernahkah mendengar seseorang berkata, “Semua orang juga berpikir begitu”? Atau merasa linimasa media sosial hanya menampilkan opini yang sejalan dengan keyakinanmu? Jika iya, mungkin kamu sedang berada dalam ruang gema media sosial.
Ruang gema (echo chamber) terjadi ketika seseorang terus menerima informasi yang selaras dengan pandangannya dan jarang, bahkan hampir tidak pernah, melihat sudut pandang yang berbeda.
Bagaimana Ruang Gema Terbentuk?
Platform media sosial menggunakan algoritma untuk menyesuaikan konten dengan preferensi pengguna. Sistem ini menganalisis apa yang Anda sukai, bagikan, retweet, atau tonton, lalu menyajikan lebih banyak konten serupa.
Perusahaan media sosial menghubungkan pengguna yang memiliki minat dan preferensi yang sama. Facebook, Instagram, X (Twitter), Reddit, hingga YouTube mengelompokkan orang-orang dengan kecenderungan konten yang mirip. Pola ini memperkuat bias konfirmasi, yaitu kecenderungan seseorang menerima informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ia miliki.
Akibatnya, pengguna merasa nyaman karena terus melihat opini yang menguatkan pandangannya sendiri.
Mengapa Ruang Gema Berbahaya?
Ruang gema membatasi akses terhadap perspektif yang berbeda. Ketika seseorang hanya menerima satu jenis narasi, maka orang tersebut lebih mudah mempercayai informasi yang belum tentu benar.
Kondisi ini dapat memperparah polarisasi dan memperdalam perpecahan sosial. Tanpa paparan sudut pandang lain, seseorang sulit mengevaluasi informasi secara objektif.
Cara Keluar dari Ruang Gema
Langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah memperluas sumber konsumsi media. Ikuti akun atau baca media yang memiliki sudut pandang berbeda dari kebiasaan Anda.
Langkah kedua, baca setiap informasi dengan sikap kritis. Periksa sumber, cek data, dan jangan langsung menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuai dengan keyakinan Anda.
Langkah ketiga, pilih sumber berita yang memiliki reputasi baik dan dikenal berupaya menyaring narasi palsu.
Kesadaran sebagai Kunci
Algoritma memang membentuk pengalaman digital kita, tetapi kita tetap memegang kendali atas pilihan yang kita buat. Dengan menyadari bahwa linimasa merupakan hasil dari preferensi pribadi, kita dapat secara aktif keluar dari ruang gema dan membuka diri terhadap informasi yang lebih beragam.
Karena pada akhirnya, literasi digital bukan hanya soal akses informasi, tetapi juga soal keberanian untuk mendengar suara yang berbeda.


