Mahasiswa ITS Berdarah Tionghoa Jadi Dalang Muda, Mampu Mainkan Wayang dalam Tiga Bahasa

CampusNet – Mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mencuri perhatian melalui kisah inspiratif di dunia seni budaya. Seorang mahasiswa berdarah Tionghoa bernama Christopher Jason Santoso berhasil menekuni seni pewayangan sebagai dalang muda, bahkan mampu memainkan pertunjukan wayang dalam tiga bahasa sekaligus.

Keunikan ini membuat Christopher tidak hanya dikenal sebagai mahasiswa aktif, tetapi juga sebagai sosok yang berkontribusi dalam pelestarian budaya tradisional Indonesia di kalangan generasi muda.

Tertarik Wayang Sejak Sekolah Dasar

Christopher merupakan mahasiswa program studi S1 Studi Pembangunan ITS. Ketertarikannya terhadap dunia pewayangan ternyata sudah muncul sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu ia mendapat tugas sekolah untuk membuat pertunjukan wayang sederhana, yang kemudian menumbuhkan minatnya terhadap seni tradisional tersebut.

Sejak saat itu, Christopher mulai mempelajari berbagai aspek dalam dunia pewayangan secara serius. Ia terus mengasah kemampuan mendalang hingga akhirnya mampu tampil dalam berbagai acara.

Mendalang dalam Tiga Bahasa

Salah satu hal yang membuat Christopher berbeda dari dalang pada umumnya adalah kemampuannya membawakan pertunjukan wayang dalam tiga bahasa, yaitu Jawa, Inggris, dan Mandarin.

Kemampuan ini ia tunjukkan dalam sebuah pagelaran di lingkungan kampus ITS. Dengan menggabungkan tiga bahasa sekaligus, Christopher berupaya memperkenalkan wayang kepada audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda dan masyarakat internasional.

Wayang sendiri merupakan seni pertunjukan tradisional Indonesia yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, sehingga pelestariannya menjadi penting bagi identitas budaya Indonesia.

Sempat Hadapi Tantangan dan Keraguan

Perjalanan Christopher menekuni dunia pewayangan tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat menghadapi tekanan dan keraguan karena latar belakangnya sebagai keturunan Tionghoa yang menekuni seni yang identik dengan budaya Jawa.

Namun, ia memilih untuk terus belajar secara otodidak melalui buku, media sosial, dan berbagai referensi lainnya hingga akhirnya mampu tampil sebagai dalang muda.

Baginya, seni wayang adalah warisan budaya yang bisa dipelajari oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang etnis.

Aktif Kuliah, Riset, dan Berbisnis

Di luar aktivitasnya sebagai dalang, Christopher tetap menjalani kehidupan sebagai mahasiswa pada umumnya. Ia aktif mengikuti kegiatan akademik, melakukan penelitian, serta merintis usaha di bidang jamu herbal.

Kemampuannya menyeimbangkan dunia akademik, budaya, dan kewirausahaan menjadikan Christopher contoh mahasiswa yang mampu berkembang di berbagai bidang sekaligus.

Inspirasi Pelestarian Budaya bagi Generasi Muda

Kisah Christopher menunjukkan bahwa seni tradisional seperti wayang masih memiliki tempat di kalangan generasi muda. Dengan pendekatan kreatif, termasuk penggunaan berbagai bahasa, seni pewayangan dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas.

Langkah Christopher sebagai dalang muda dari ITS menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak mengenal batas etnis maupun latar belakang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *