Mahasiswa Undip Diduga Dikeroyok Puluhan Senior dan Rekan Sejurusan, Alami Patah Hidung hingga Gegar Otak

CampusNet – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang menjadi sorotan publik setelah informasi mengenai insiden tersebut viral di media sosial. Korban dilaporkan mengalami sejumlah luka serius akibat kekerasan yang diduga dilakukan oleh puluhan mahasiswa lain, termasuk senior di kampusnya.

Korban diketahui bernama Arnendo (20), mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial di Fakultas Ilmu Budaya Undip. Ia diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekitar 30 orang yang terdiri dari teman sejurusan dan beberapa senior.

Peristiwa tersebut disebut terjadi pada pertengahan November 2025 dan berlangsung hingga larut malam. Dalam laporan yang beredar, korban mengalami tindakan kekerasan fisik secara berulang yang menyebabkan kondisi kesehatannya memburuk.

Akibat kejadian itu, Arnendo dilaporkan mengalami patah tulang hidung, gegar otak, serta gangguan pada saraf mata kiri. Selain luka fisik, korban juga disebut mengalami trauma psikologis setelah insiden tersebut.

Kuasa hukum korban menyatakan bahwa pengeroyokan dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah mahasiswa yang berada dalam lingkup pergaulan akademik yang sama dengan korban. Kasus ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum.

Penyelidikan saat ini ditangani oleh Polrestabes Semarang. Aparat kepolisian telah memeriksa beberapa saksi guna mengumpulkan keterangan terkait peristiwa yang terjadi.

Sementara itu, pihak Universitas Diponegoro menyatakan akan melakukan penelusuran internal terkait dugaan kekerasan tersebut. Kampus menyebut akan menjatuhkan sanksi apabila ditemukan pelanggaran terhadap aturan akademik maupun etika kemahasiswaan.

Kasus ini menuai perhatian luas karena melibatkan dugaan kekerasan yang dilakukan secara berkelompok di lingkungan kampus. Selain itu, publik juga menyoroti fakta bahwa peristiwa tersebut terjadi beberapa bulan lalu namun baru menjadi perbincangan luas belakangan ini.

Sejumlah pihak pun mendorong agar proses hukum berjalan transparan serta memberikan perlindungan terhadap korban. Di sisi lain, kasus ini kembali memunculkan diskusi mengenai budaya kekerasan, senioritas, serta keamanan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *