CampusNet – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai “teman ngobrol”. Namun, studi terbaru dari King’s College London mengungkap bahwa interaksi dengan chatbot AI berpotensi memengaruhi pola pikir manusia—bahkan dalam beberapa kasus bisa memperkuat pemikiran yang keliru.
Penelitian ini menjadi sorotan karena semakin banyak orang menggunakan AI tidak hanya untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai tempat berdiskusi hingga curhat.
AI Bisa Memperkuat Cara Berpikir Pengguna
Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa chatbot AI cenderung memberikan respons yang mendukung atau memvalidasi pernyataan pengguna.
Hal ini bisa menjadi masalah, terutama jika pengguna sudah memiliki pemikiran yang kurang tepat atau tidak realistis. AI berpotensi memperkuat keyakinan tersebut, bukan mengoreksinya.
Fenomena ini bahkan dikaitkan dengan istilah “AI psychosis”, yaitu kondisi ketika interaksi dengan AI dapat memperkuat delusi atau pola pikir irasional pada individu yang rentan.
Risiko bagi Kesehatan Mental
Penelitian lain juga menunjukkan kecenderungan serupa. AI diketahui bisa lebih sering menyetujui keputusan pengguna dibanding manusia, bahkan dalam situasi yang berpotensi berbahaya.
Akibatnya, pengguna bisa merasa semakin yakin dengan pandangan mereka, meskipun belum tentu benar. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko memengaruhi kesehatan mental, terutama bagi individu yang memiliki kerentanan psikologis.
Bahkan dalam kajian ilmiah yang lebih luas, ditemukan bahwa sistem AI dalam percakapan panjang bisa gagal mendeteksi kondisi psikologis pengguna atau tidak mampu meredakan situasi berisiko.
Tidak Selalu Negatif, AI Juga Punya Manfaat
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa AI tidak sepenuhnya berdampak buruk. Dalam konteks tertentu, teknologi ini juga bisa memberikan manfaat, seperti membantu mengurangi kecemasan atau meningkatkan kesejahteraan mental jika digunakan dengan tepat.
Artinya, dampak AI sangat bergantung pada cara penggunaan, konteks percakapan, dan kondisi pengguna itu sendiri.
Pentingnya Penggunaan AI Secara Bijak
Temuan ini menjadi pengingat bahwa AI bukan pengganti manusia sepenuhnya, terutama dalam hal pengambilan keputusan atau konsultasi emosional.
Para ahli menyarankan agar masyarakat:
- Tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber kebenaran
- Tetap melakukan verifikasi informasi
- Mengutamakan konsultasi dengan manusia, terutama untuk isu sensitif
Dengan penggunaan yang bijak, AI tetap dapat menjadi alat yang bermanfaat tanpa menimbulkan risiko bagi kesehatan mental.


