Rape Culture, Budaya Sakit yang Sayangnya Masih Dianggap Sebelah Mata

CampusNet – Akhir-akhir ini sedang marak kasus pelecehan virtual yang dilakukan oleh 16 Mahasiswa FHUI. Dalam grup LINE mereka, dengan mudahnya mereka mengobjektifikasi tubuh perempuan sebagai bahan candaan dan obrolan sehari-hari.

Sikap tak senonoh dan khufur adab itu tidak terbentuk dalam semalam. Namun, muncul dari normalisasi mengenai obrolan yang mengobjektifikasi dari lingkungan dimana mereka tumbuh. Hal-hal semacam itu masuk kedalam kategori Rape Culture.

Apa Itu Rape Culture?

Rape Culture atau Budaya Pemerkosaan adalah budaya dimana kekerasan seksual dalam berbagai bentuk dinormalisasi dan dianggap sebagai sebuah masalah ringan. Budaya ini dasarnya terbentuk dari kuatnya sistem patriarki dalam suatu lingkup masyarakat.

Sebuah lapisan masyarakat yang memiliki sistem patriarki yang kuat, umunya akan memiliki pandangan misoginistik. Pandangan tersebut merupakan akar dari Rape Culture ini, yaitu ketika perempuan dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan laki-laki.

Rendahnya kesetaraan dalam sebuah lapisan sosial ini, membuat kelompok yang diberikan tongkat kekuasaan akan mudah melakukan abuse of power. Dalam konteks Rape Culture, mereka menormalisasi bentuk objektifikasi dan kekerasan seksual.

Pihak dengan kekuasaan juga akan menumpukan rensposibilitas atas perbuatan maupun perilaku amoral mereka, kepada kaum yang dianggap tidak setara. Sehingga lahirlah Victim Blaming, yang merupakan bagian dari Rape Culture.

Fenomena ‘Boys will be Boys’ atau ‘Namanya juga Laki-Laki’

Dalam kasus pelecehan yang dilakukan oleh Mahasiswa FHUI, tak jarang ditemukannya komentar yang menormalisasi perilaku tersebut. Menganggap bahwa obrolan tersebut adalah candaan wajar dalam tongkrongan laki-laki.

Dalam kacamata masyarakat patriarki, objektifikasi tubuh perempuan adalah hal yang lumrah. Karena mereka merasa bahwa mereka memiliki hak atas otonomi dari tubuh setiap perempuan. Mereka juga menganggap bahwa laki-laki memiliki urges yang tidak bisa dikontrol.

Mewajarkan para laki-laki dalam lingkup patriarkis untuk berbuat semena-mena. Tanpa diberi tumpuan tanggung jawab atas perbuatan mereka yang merugikan pihak lain. Karena tidak diberikannya mereka pendidikan mengenai empati dan rasa responsibilitas akan sesama.

Frasa negatif ‘Boys will be Boys’ jika terus dilestarikan akan menimbulkan kelanggengan kekerasan seksual lintas generasi. Yang ujungnya akan berakhir pada meningkatnya amoralitas laki-laki dan femisida pada kelompok masyarakat tersebut.

Victim Blaming di Ranah Rape Culture

Di budaya Rape Culture, perempuan adalah tumpuan responsibilitas dalam pelecehan dan kekerasan seksual. Seperti contoh komentar pada sebuah platform sosial media mengenai kasus FHUI,

Masih ada celah bagi mereka untuk menyalahkan bentuk tubuh seorang perempuan meskipun dalam konteks sebuah kasus kekerasan seksual. Hal miris yang umum ditemukan dalam lingkup masyarakat patriarkis.

Diluar kasus yang terjadi, tidak jarang juga ditemukan komentar yang menyaratkan perempuan untuk menutup seluruh tubuhnya supaya tidak dilecehkan. Tanpa menasehati para laki-laki untuk tidak melecehkan.

Jika ada sebuah berita kekerasan seksual yang beredar, yang paling umum ditanyakan terlebih dahulu adalah ‘Bagaimana cara korban berpakaian?’ atau ‘Bagaimana perilaku korban sebelum kejadian?’ dan malah terkadang pelaku yang mendapatkan sorot simpati dari publik.

‘Tidak ada asap, bila tidak ada api,’ pikir mereka. Namun, pribahasa tersebut tidak berlaku pada kekerasan seksual yang merupakan ranah kriminalitas. Sebuah kekerasan seksual terjadi dikarenakan minimnya kendali diri pelaku, yang dapat bersumber dari normalisasi amoralitas.

Seseorang dengan empati dan tembok moral yang tinggi, akan memiliki kendali atas perilaku mereka untuk tidak melecehkan dan menjadi pelaku kekerasan seksual. Sesuatu yang harusnya dinormalisasi, dibandingkan menumpukan kesalahan pada korban.

Mematikan Rape Culture demi Masa Depan yang Aman

Rape Culture bukan hanya merugikan pihak perempuan, namun juga laki-laki. Matinya moralitas pada laki-laki yang dilahirkan oleh Rape Culture, menimbulkan rasa tidak aman dalam diri perempuan, menyebabkan generalisasi bahwa setiap pria adalah pelaku.

Sedangkan untuk membangun sebuah hubungan yang sehat, harus ada rasa aman dan kesetaraan di dalamnya. Hal itu hampir tidak mungkin terjadi bila budaya Rape Culture masih terus dilestarikan.

Keharusan laki-laki menjadi makhluk yang tangguh dan kuat dalam lingkup patriarki, bercabang menimbulkan ketidaksetaraan dan kematian empati. Untuk itu, demi mematikan Rape Culture, sistem patriarki juga harus ditinggalkan.

Pendidikan empati dan moral sudah seharusnya diberikan kepada laki-laki sejak mereka dini. Untuk mendidik perilaku mereka tentang bagaimana mereka harus memperlakukan sesama dengan empati dan responsibilitas, tanpa adanya landasan machismo dari patriarki.

Menurut seorang filsuf ternama, Plato, pada dasarnya perempuan dan laki-laki memiliki jiwa dan kemampuan rasional yang sama. Jadi, sangat mungkin dalam menjalankan kesetaraan dan meninggalkan sistem patriarki, untuk masa depan yang lebih baik.

Dengan pandangan yang setara, Rape Culture akan berhenti mengalir ke lintas generasi. Perempuan dan anak-anak akan aman dari kekerasan seksual, serta laki-laki bisa lepas dari generalisasi bahwa mereka adalah pelaku dan kaum amoral.

Baca Juga: Kenali Bentuk Pelecehan Seksual yang Tidak Disadari di Dunia Kampus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *