CampusNet – Dalam kehidupan mahasiswa sekarang, terkadang ada fase di mana niat awal ingin mengerjakan tugas malah berakhir dengan doomscrolling TikTok atau bermain gim hingga berjam-jam.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Procrastination atau penundaan. Procrastination merupakan perilaku menunda-nunda pekerjaan penting secara sengaja ,meskipun pelakunya sadar akan dampak negatif yang akan didapatkan.
Secara psikologis, Procrastination bukanlah sekadar malas, melainkan sebuah mekanisme otak untuk menghindari stres. Otak cenderung lebih memilih kesenangan instan jangka pendek melalui hiburan dalam bentuk apapun, seperti Sosial Media atau Gim.
Bagi seorang mahasiswa, perilaku ini jelas membawa dampak yang sangat merugikan. Tidak hanya memupuk rasa malas, pekerjaan yang seharusnya bisa dicicil justru bertransformasi menjadi SKS (Sistem Kebut Semalam). Kebiasaan ini pada akhirnya akan menguras kesehatan mental dan fisik secara perlahan.
Untuk menanggulangi procrastination, berikut adalah tiga tips yang dapat diterapkan :
Pecah Tugas Menjadi Micro-Tasks
Ketika melihat to-do list yang berisi “Selesaikan Bab 3” atau “Selesaikan skripsi”, otak cenderung panik dan refleks mencari pekerjaan lain.
Lebih baik, buatlah to-do list yang lebih kecil dan spesifik. Misalnya, ubah menjadi “Tulis analisis satu paragraf” atau “Rapihkan daftar pustaka”. Menghadapi tugas yang berukuran kecil membuat progres yang dijalankan terasa lebih nyata dan tidak mengintimidasi.
Aturan 2 Menit (The 2-Minute Rule)
Aturan ini sangat berkaitan dengan micro-tasking. Prinsip dasarnya: jika sebuah tugas bisa diselesaikan dalam waktu 2 menit, kerjakan saat itu juga. Tugas-tugas besar yang sudah dirincikan menjadi bagian kecil dapat langsung dikerjakan untuk membangun momentum. Setelah memaksa diri memulai selama dua menit, otak cenderung akan terbawa arus untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.
Terapkan Reward System yang Jelas
Poin ini sangat krusial, karena otak manusia membutuhkan dopamin agar bisa terus bekerja. Terapkan janji ke diri sendiri. Misalnya, “Kalau 500 kata selesai hari ini, aku boleh beli jajan”. Hal ini akan membentuk pola yang mendorong otak untuk menyelesaikan pekerjaan demi mendapatkan reward pengisi dopamin.
Procrastination merupakan perilaku yang sangat berdampak negatif untuk mahasiswa. Untuk menghilangkan kebiasaan tersebut tentu membutuhkan proses yang tidak instan. Dalam menyelesaikan tugas, hal yang penting adalah terus membangun momentum progres, bukan sekadar mengejar kesempurnaan.
Baca juga: Metode Belajar To-Do List Bikin Stres?, Waktunya Coba 3 Opsi Ini

