Menyoal Marwah Universitas: Ketika Kampus Diminta Menjadi Operator Makan Siang

CampusNet – Instruksi pembukaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar persoalan teknis penyediaan pangan. Ini adalah alarm keras mengenai kaburnya batas-batas fungsional institusi pendidikan di Indonesia akibat ambisi kebijakan yang dipaksakan.

Universitas, yang seharusnya menjadi pusat pengembangan intelektualitas, riset mendalam, dan penjaga moral kebijakan, kini tampak sedang digeser paksa menjadi unit pelaksana teknis (UPT) logistik pemerintah. Kebijakan ini menyimpan risiko degradasi peran akademik yang sangat nyata, di mana marwah intelektual dikorbankan demi tuntutan operasional harian.

Erosi Fungsi Tri Dharma

Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat kini terancam mengalami penyempitan makna yang dangkal. Memaksakan mahasiswa dan dosen untuk mengelola operasional dapur skala industri dengan dalih “pengabdian” adalah bentuk simplifikasi yang berbahaya. Pengabdian masyarakat seharusnya berbasis pada transfer ilmu pengetahuan (knowledge transfer), bukan sekadar mobilisasi tenaga untuk tugas katering yang seharusnya menjadi ranah industri profesional.

Logika Korporatisasi dan Tenaga Kerja Murah

Integrasi program ini ke dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memicu pertanyaan etis yang mendasar: Apakah ini bentuk inovasi kurikulum, atau sekadar cara negara mendapatkan tenaga kerja murah demi kelancaran program populis? Menjadikan operasional dapur sebagai pengganti SKS magang berisiko melahirkan lulusan yang terampil secara teknis-operasional, namun tumpul secara teoritis dan analitis. Kita sedang mempertaruhkan kualitas intelektual bangsa demi memenuhi target kuantitatif jangka pendek.

Ketergantungan dan Hilangnya Independensi

Universitas harus menjadi mitra kritis pemerintah, bukan kepanjangan tangan birokrasi yang patuh tanpa reserve. Ketika kampus masuk ke dalam ekosistem pendanaan program MBG, independensi akademik berada di ujung tanduk. Sulit membayangkan sebuah fakultas tetap objektif memberikan kritik terhadap efektivitas program pemerintah jika mereka sendiri menjadi bagian dari mekanisme pelaksanaan yang bergantung pada kucuran anggaran tersebut.

Penutup: Mengembalikan Khittah Kampus

Hilirisasi ilmu pengetahuan memang perlu, namun universitas seharusnya berkontribusi pada level sistem, formula, dan teknologi pangan, bukan pada level produksi operasional kasar. Menjadikan universitas sebagai pusat dapur umum adalah langkah mundur yang mengaburkan jati diri institusi pendidikan tinggi. Sebelum kebijakan ini melumpuhkan produktivitas riset, perlu ada refleksi untuk mengembalikan kampus ke fungsinya yang sejati: sebagai dapur pemikiran, bukan dapur logistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok