Soshum dan Skala Superioritas dalam Mata Mayoritas

CampusNet – Pendidikan ilmu sosial dan humaniora (soshum) di mata mayoritas kerap kali tidak dianggap memiliki skala superioritas yang sebanding dengan rumpun ilmu sains dan teknologi (saintek).

Banyak orang yang beranggapan bahwa soshum tidak melahirkan banyak inovasi praktikal yang menguntungkan bagi kebutuhan masyarakat. Karena fokusnya yang lebih condong pada suatu yang abstrak.

Namun, meskipun saintek melahirkan para insyinyur, ilmuwan dan teknolog yang menyumbang inovasi terbaharukan dan pembangunan infrastruktur. Soshum melahirkan para pemikir, pengamat dan peneliti sosial, hingga pembuat kebijakan.

Soshum mungkin tidak berkutat pada ilmu pasti, tapi soshum mengajarkan bagaimana manusia memandang sebuah isu sosial dari berbagai sisi. Para akademisi soshum mengerti bagaiamana peliknya peradaban masyarakat di masa modern ini.

Jika saintek membantu memajukan peradaban dengan temuan-temuan yang memudahkan keseharian masyarakat. Soshum membantu dengan memajukan pemikiran masyarakatnya itu sendiri.

Tanpa ilmu sosial dan humaniora, kita bisa hidup di bawah kebijakan yang minim moralitas dan melihat sebuah inovasi lahir dari eksperimen yang tidak etis.

Jadi sebenarnya, bukan tentang mana rumpun yang lebih superior, namun tentang bagaimana kita mulai memandang bahwa setiap rumpun ilmu memiliki kepentingan yang setara dalam memajukan bangsa.

Karena setiap rumpun ilmu akan selalu menopang satu sama lain. Tidak ada ilmu yang tidak relevan, meski itu di dalam dunia industri. Karena sebuah industri pun membutuhkan seseorang dengan latar soshum untuk menangani manajerial SDM industri tersebut.

Baca Juga: Mengenal Graduate School of Humanities and Sociology: S2-nya Anak Soshum!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok