Inovasi Energi Terbarukan Mahasiswa ITS Berhasil Tembus Kompetisi Global di Amerika Serikat

CampusNet – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh anak muda Indonesia di kancah internasional. TERANGIN, sebuah startup inovasi yang digawangi oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berhasil meraih posisi ke-4 dalam ajang bergengsi Fowler Global Social Innovation Challenge (GSIC) 2026.

Kompetisi yang berlangsung pada 1-2 Mei 2026 di University of San Diego, Amerika Serikat ini, mempertemukan puluhan inovator dari seluruh dunia untuk menghadirkan solusi atas permasalahan sosial dan lingkungan global.

Mengenal TERANGIN: Solusi Cerdas untuk Petani Indonesia

TERANGIN bukan sekadar proyek kuliah biasa. Startup ini menghadirkan solusi berkelanjutan berupa alat perangkap hama tanaman berbasis energi terbarukan. Inovasi ini sangat unik karena mengombinasikan dua sumber energi bersih:

  1. Kincir Angin (Energi Bayu)
  2. Panel Surya (Energi Matahari)

Sistem hibrida ini memungkinkan alat bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada listrik PLN atau bahan bakar fosil. Selain membantu petani mengatasi hama secara efektif, inovasi ini mendukung agenda transisi energi global menuju Net Zero Emission.

Perjalanan Menuju Top 6 Dunia

Dalam ajang Fowler GSIC 2026, TERANGIN bersaing ketat dengan 43 finalis yang berasal dari 10 negara berbeda. Berkat presentasi yang memukau dan dampak sosial yang nyata, tim ITS ini berhasil:

  • Menembus jajaran Top 6 Global.
  • Meraih peringkat ke-4 dunia.
  • Mendapatkan pendanaan sebesar USD 3.000 (sekitar Rp48 juta) untuk pengembangan bisnis lebih lanjut.

Muhammad Hanif, selaku founder TERANGIN, menyatakan bahwa kompetisi ini memberikan perspektif baru mengenai skala industri internasional dan validasi atas karya yang mereka kembangkan.

Peran Strategis Pertamina dalam Pembinaan Inovator Muda

Keberhasilan TERANGIN tidak lepas dari program Pertamuda Seed & Scale, sebuah inisiatif dari PT Pertamina (Persero) untuk menjaring dan membina bibit wirausaha muda di perguruan tinggi.

Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah bukti nyata bahwa inovasi anak bangsa memiliki standar dunia. Melalui mentoring intensif dan dukungan finansial, Pertamina berkomitmen mengubah ide kreatif mahasiswa menjadi solusi nyata yang diakui investor internasional.

Delegasi Indonesia Lainnya: Inovasi dari PENS

Selain TERANGIN dari ITS, Indonesia juga diwakili oleh tim Pe-NOVTRA dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Mereka membawa inovasi alat panen kelapa sawit yang menggunakan sistem pengisian mandiri (self-charging system) berbasis piezoelektrik. Kehadiran dua tim ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta kewirausahaan sosial global.

Kesimpulan

Prestasi TERANGIN di Amerika Serikat membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi, inovator muda, dan dukungan korporasi seperti Pertamina dapat menghasilkan dampak positif bagi dunia. Inovasi energi terbarukan ini diharapkan dapat segera diproduksi secara massal untuk membantu meningkatkan produktivitas petani di Indonesia dan mancanegara.

Baca juga: Inovasi Hijau! Dosen UB Ciptakan Sunscreen SPF 50 dari Limbah Jagung, Solusi Skincare Ramah Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok