Inovasi Keren! Universitas Brawijaya Ciptakan Mesin Pencetak Lembaran Plastik dari Limbah Sampah dan Akrilik

CampusNet – Universitas Brawijaya (UB) kembali menorehkan prestasi gemilang di bidang teknologi lingkungan. Melalui Departemen Teknik Industri, UB berhasil mengembangkan mesin inovatif yang mampu mengubah sampah plastik dan limbah akrilik menjadi lembaran plastik siap pakai yang bernilai ekonomi tinggi.

Inovasi ini diinisiasi langsung oleh Ketua Departemen Teknik Industri Program Studi Sarjana Teknik Industri UB, Prof. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D. Langkah ini menjadi angin segar sekaligus solusi nyata atas permasalahan penumpukan volume sampah plastik dan sisa bahan akrilik yang selama ini kurang termanfaatkan secara optimal.

Bagaimana cara kerja, proses pengembangan, dan potensi bisnis dari inovasi ramah lingkungan ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Solusi Atasi Limbah Kampus dan UMKM Percetakan

Latar belakang pembuatan mesin pencetak ini berakar dari realitas kehidupan sehari-hari di area kampus dan sekitarnya. Aktivitas akademik dan operasional kampus setiap hari memproduksi limbah plastik dalam jumlah yang tidak sedikit.

Di sisi lain, material sisa akrilik yang tidak terpakai sering kali menumpuk di laboratorium perkuliahan serta sisa produksi dari sektor UMKM yang bergerak di bidang pembuatan souvenir dan industri percetakan.

“Lembaran ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti kotak tisu, souvenir, hingga berbagai produk lainnya. Jadi tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” ungkap Prof. Sugiono, seperti dikutip dari laman resmi UB.

Bagaimana Cara Kerja Mesin Pencetak Lembaran Plastik UB?

Meskipun menggunakan teknologi canggih, konsep pengoperasian mesin daur ulang inovasi Universitas Brawijaya ini terbilang cukup sistematis dan efektif. Berikut adalah tahapan kerjanya:

  1. Pengumpulan & Pemilahan: Sampah plastik dan limbah akrilik dikumpulkan, dibersihkan, dan dipisahkan berdasarkan jenisnya.
  2. Proses Pemanasan Bertahap: Limbah yang telah siap kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk dipanaskan melalui beberapa tahapan suhu tertentu hingga meleleh sempurna.
  3. Pencetakan (Molding): Cairan lelehan plastik tersebut kemudian dialirkan ke dalam sistem cetakan (molding) khusus.
  4. Pendinginan & Hasil Akhir: Setelah dingin, lelehan tersebut akan memadat dan membentuk lembaran plastik kokoh yang siap dipotong atau dibentuk kembali menjadi aneka barang kerajinan kreatif.

Prof. Sugiono menambahkan bahwa bentuk produk akhir sebenarnya sangat fleksibel tergantung jenis cetakan yang dipasang pada mesin. Namun, untuk tahap awal pengembangan, tim memilih fokus memproduksi bentuk lembaran plastik karena sifatnya yang multifungsi dan lebih mudah diolah menjadi berbagai produk turunan fungsional lainnya.

Progres Pengembangan Sudah Mencapai 95 Persen

Kabar baiknya, proyek pengembangan mesin daur ulang plastik ini tidak lagi sekadar konsep di atas kertas. Saat ini, progres pembuatan fisik fisik mesin telah mencapai 95 persen.

Saat ini, tim peneliti tengah fokus melakukan testing atau tahap pengujian performa demi memastikan lembaran plastik yang keluar memiliki ketebalan rata dan kualitas material yang konsisten agar mudah diproses lebih lanjut di masyarakat.

Libatkan Mahasiswa dan Terapkan Standar K3 Ketat

Dalam proses riset dan pengembangan alat, Departemen Teknik Industri UB turut melibatkan para mahasiswa Magister (S2) Teknik Industri. Hal ini bertujuan sebagai media riset terapan sekaligus pengujian kualitas material makro.

Lebih dari itu, aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) menjadi fokus utama dalam pengujian ini. Tim memastikan bahwa gas atau residu yang dihasilkan selama proses pemanasan limbah di dalam mesin tetap aman bagi operator dan tidak membahayakan lingkungan sekitar saat diimplementasikan secara luas.

Mendapat Apresiasi Langsung dari Mendiktisaintek

Inovasi mutakhir dari bumi Malang ini terbukti menarik perhatian nasional. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, sempat meninjau langsung wujud fisik mesin pencetak ini di Universitas Brawijaya.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Sugiono didampingi Ketua Senat FSTeM, Prof. Sasmito Djati, mendemonstrasikan langsung mekanisme kerja alat di hadapan menteri. Kehadiran inovasi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain di Indonesia dalam melakukan hilirisasi riset berbasis green technology dan sirkular ekonomi.

Dengan kehadiran mesin pencetak lembaran plastik berbasis limbah ini, UB membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi pusat teori, melainkan juga generator solusi nyata demi bumi yang lebih bersih dan ekonomi masyarakat yang lebih berputar.

Baca juga: Vocasignora: Inovasi AI Mahasiswa Undip, Jembatan Komunikasi Baru bagi Penyandang Disabilitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok