Guru Besar ITS Sukses Daur Ulang Limbah Aluminium Jadi Gas Hidrogen untuk Sumber Listrik

CampusNet – Kebutuhan akan sumber energi hijau yang bersih dan berkelanjutan semakin mendesak di tengah ancaman kerusakan ekologis akibat ketergantungan pada bahan bakar konvensional. Menjawab tantangan global tersebut, Guru Besar dari Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr.-Ing. Doty Dewi Risanti S.T., M.T., berhasil menciptakan inovasi mutakhir dengan memanfaatkan limbah aluminium sebagai bahan baku penghasil gas hidrogen untuk pembangkit listrik.

Inovasi ini dinilai jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan metode konvensional. Selain mampu menghasilkan energi bersih, terobosan ini juga menjadi solusi konkret bagi penanganan akumulasi limbah industri logam yang selama ini belum terkelola dengan optimal.

Mendorong Prinsip Ekonomi Sirkular Berbasis Fisika-Metalurgi

Dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-237 ITS, Prof. Doty menyoroti masalah deplesi bahan baku primer serta masifnya limbah industri akibat proses daur ulang yang belum maksimal. Pengolahan limbah yang ala kadarnya justru sering kali menurunkan kualitas material tersebut.

Untuk mengatasinya, Prof. Doty menerapkan proses fisika-metalurgi. Metode ini memungkinkan terciptanya siklus energi tertutup yang sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

“Hal ini dapat memastikan bahwa penggunaan ulang material tidak menurunkan kualitas dan bahkan mampu menaikkan tingkat kualitasnya,” jelas Prof. Doty.

Mengapa Memilih Limbah Aluminium?

Aluminium dipilih bukan tanpa alasan. Karakteristik logam ini dinilai sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pilar energi hijau masa depan karena beberapa keunggulan strategis:

  1. Memiliki kerapatan energi volumetrik yang tinggi.
  2. Ketersediaannya sangat melimpah di skala global.
  3. Dapat didaur ulang secara kontinu tanpa batas.

Prof. Doty memandang Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sistem daur ulang berbasis peleburan sederhana menjadi daur ulang sirkular maju. Caranya adalah dengan memanfaatkan tramp element dari logam sisa yang hendak dilebur. Pasalnya, metode peleburan biasa kerap kali menyisakan limbah tak terproses yang sebenarnya masih sangat kaya akan potensi energi.

Mekanisme Kerja dan Tantangan Teknologi

Secara ilmiah, prinsip utama dari inovasi ini bertumpu pada reaksi kimia antara aluminium dan air yang kemudian melepaskan atau menghasilkan gas hidrogen.

Meski potensinya sangat besar, proses ini memiliki tantangan teknis tersendiri. Salah satu kendala utamanya adalah keberadaan lapisan natural oksida pasif alumina yang menyelimuti aluminium. Lapisan pelindung alami tersebut harus dibuka terlebih dahulu agar proses pelepasan energi dapat berjalan optimal.

Didukung Penuh Jaringan Kolaborasi Internasional dan Industri

Guna menyempurnakan dan mempercepat hilirisasi riset ini ke skala praktis, penelitian pengolahan limbah aluminium ini digarap melalui kolaborasi multisektoral yang solid.

ITS menggandeng sejumlah institusi akademik internasional dan domestik seperti University of Exeter (Inggris) serta Universitas Kristen Petra Surabaya. Tak hanya itu, inovasi strategis ini juga mendapat dukungan penuh dari sektor industri, termasuk perusahaan pengolahan limbah logam Aeramine Ltd, Gringgo Indonesia, hingga raksasa energi nasional PLN Nusantara Power.

Melalui sinergi kuat ini, pemanfaatan limbah aluminium menjadi hidrogen diharapkan dapat segera direalisasikan sebagai salah satu penopang kemandirian energi bersih di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok