Dari IP 2,39 Tembus Jurnal Q1 Elsevier: Kisah Perjuangan Fauzan Adhiima, Mahasiswa ITB

CampusNet – Perjalanan di perguruan tinggi kerap memberikan kejutan yang tidak terduga. Sebagian besar mahasiswa sering menganggap Indeks Prestasi (IP) rendah di awal semester sebagai penanda kegagalan. Namun, M. Fauzan Adhiima, mahasiswa Fisika FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2022, mematahkan anggapan tersebut.

Meski sempat terpuruk dengan IP 2,39 pada awal masa perkuliahannya dan hampir mengulang mata kuliah, Fauzan membuktikan bahwa nilai akademis di awal kuliah hanyalah titik mulai. Lewat sikap pantang menyerah, ia menembus jurnal berreputasi internasional Q1 Elsevier dan memublikasikan artikel ilmiahnya pada 4 Agustus 2026.

Masa “Survival” di ITB dan Menemukan Passion di Semester 4

ITB sebenarnya menjadi pilihan kedua saat Fauzan mendaftar perguruan tinggi. Saat lolos ke jurusan Fisika FMIPA, ia mengaku sempat merasa kemampuan dasar sainsnya jauh tertinggal dibanding teman-temannya. Masa Tahapan Persiapan Bersama (TPB) pada tahun pertama perkuliahan pun menempatkannya pada fase survival yang penuh tantangan.

Situasi mulai berbalik ketika Fauzan menginjak semester 4. Melalui mata kuliah Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika, ia menemukan sisi lain dari ilmu fisika yang selama ini ia cari. Ia menyadari bahwa kesenangan ilmu ini bukan berasal dari rumus yang tampak elegan di papan tulis, melainkan dari proses mencoba, mengalami kegagalan, lalu mencoba kembali hingga menemukan solusi. Proses inilah yang menumbuhkan rasa penasaran tanpa henti dalam dirinya.

Perjalanan Riset: Merakit Alat Sendiri Hingga Tembus Q1 Elsevier

Di bawah bimbingan dosennya, Prof. Dr. Eng. Muhammad Miftahul Munir, S.Si., M.Si., Fauzan memulai penelitian intensif yang penuh drama dari pertengahan 2025 hingga pertengahan 2026:

  • Mei 2025: Mengalami kegagalan pada percobaan material pertama. Atas saran pembimbing, ia mengalihkan fokus riset ke sistem bubuk Fe-Zn.
  • Juni – November 2025: Menjalani proses penimbangan, penekanan, dan pengukuran manual secara konsisten selama 6 bulan berturut-turut.
  • Desember 2025: Merancang dan merakit alat ukur resistivitas bubuk otomatis dari nol yang ia beri nama CAAI 2013.
  • Januari – Maret 2026: Masalah kalibrasi ketebalan selama 3 bulan sempat mengancam proyek ini secara total, sebelum akhirnya Fauzan mengatasinya melalui koreksi matematis pascapengukuran.
  • Maret – Mei 2026: Menemukan fenomena unik berupa asimetri resistivitas hingga 56 kali lipat antara dua konfigurasi sampel dengan komposisi identik.
  • Mei – Agustus 2026: Menghadapi tantangan reviewer yang meminta data pengujian alat XPS dan TEM. Karena laboratorium tidak menyediakan fasilitas tersebut, Fauzan berjuang mencari bukti alternatif yang sama validnya hingga jurnal menerima manuskripnya.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil tuntas pada 4 Agustus 2026. Ia resmi memublikasikan artikel ilmiahnya di jurnal Q1 Elsevier Volume 485 Part 1 dengan judul “Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology”.

Pesan & Tips Bangkit dari Kegagalan Akademis

Bagi Fauzan, nilai IP rendah di awal perkuliahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk memulai perjalanan baru. Ia menekankan pentingnya menikmati setiap dinamika dalam proses belajar, baik saat merasa senang maupun sedih. Menurutnya, hal terpenting adalah selalu menghubungkan setiap kegiatan dengan hal-hal yang kita sukai.

Selain itu, ia juga membagikan beberapa pelajaran berharga dari pengalamannya:

  • Boleh Putus Asa, Tapi Jangan Menyerah: Merasa kecewa atau lelah adalah hal yang wajar, namun jangan pernah menghentikan langkah.
  • Berani Menerima Keadaan dan Berani Salah: Mengakui keterbatasan diri menjadi pijakan awal untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
  • Pahami Karakter dan Emosi Diri: Mengenali kondisi fisik, mental, serta emosi diri membantu menjaga kestabilan proses belajar.
  • Rutin Melakukan Evaluasi: Selalu menguji apa yang sudah, sedang, dan akan kita kerjakan demi perbaikan secara berkelanjutan.

Kisah Fauzan Adhiima membuktikan secara nyata bahwa IPK awal bukan penentu akhir prestasi akademis seseorang. Ketekunan, keberanian menghadapi kegagalan, serta fokus pada passion dapat mengubah setiap tantangan menjadi lompatan menuju keberhasilan tingkat dunia.

Baca juga: Mahasiswa FK UNAIR Kembangkan Inovasi Insulin Oral Berbasis Nanoteknologi lewat Research Exchange di Turki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok