CampusNet – Ada satu data yang belakangan bikin kita berhenti sejenak, bukan buat merayakannya, tapi buat mempertanyakannya. Menurut Statista Consumer Insights, Indonesia menempati posisi pertama di dunia dalam hal penggunaan AI untuk belajar, dengan 61 persen responden mengaku mengandalkan AI untuk kebutuhan pendidikan. Angka ini mengalahkan negara negara yang selama ini kita anggap lebih maju secara teknologi, seperti Amerika Serikat, China, dan Jerman.
Di permukaan, ini kedengaran seperti kabar baik. Seolah olah masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, sudah sangat adaptif terhadap teknologi baru dan siap menghadapi masa depan yang serba digital. Tapi kalau kita gali sedikit lebih dalam, terutama dengan membandingkannya pada temuan temuan dari laporan PISA (Programme for International Student Assessment) yang dikeluarkan OECD (Organisation for Economic Co operation and Development), gambar yang muncul justru jauh lebih rumit dan jauh lebih mengkhawatirkan.
Pertanyaan intinya sederhana. Apakah tingginya penggunaan AI untuk belajar ini adalah bukti kematangan digital, atau justru gejala dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu krisis berpikir kritis yang sedang dibungkus rapi oleh statistik yang terlihat membanggakan?
Ketika “Belajar dengan AI” Sebenarnya Berarti “Minta Dijawabkan oleh AI”
Salah satu masalah paling mendasar dalam diskusi soal AI dan pendidikan adalah kita jarang membedakan dua hal yang sangat berbeda: menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir, dan menggunakan AI sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri.
Dalam praktiknya di lapangan, sebagian besar penggunaan AI oleh pelajar cenderung mengarah ke yang kedua. AI dipakai untuk merangkum bacaan yang sebenarnya belum dibaca, menjawab soal yang sebenarnya belum dipahami, atau menyusun esai yang sebenarnya belum dipikirkan sendiri. Prosesnya dibalik. Alih alih AI membantu memperdalam pertanyaan, AI justru dipakai untuk menghindari pertanyaan itu sama sekali.
Ini yang membuat laporan PISA menjadi relevan untuk dibahas bersamaan dengan data Statista tadi. OECD mencatat adanya penurunan kemampuan membaca dan bernalar secara global, dan salah satu faktor yang disorot adalah semakin banyaknya siswa yang berperan sebagai konsumen jawaban, bukan sebagai pencari jawaban. Ketika sebuah pertanyaan bisa dijawab dalam hitungan detik oleh AI, dorongan alami untuk berpikir panjang, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan menoleransi ketidakpastian selama proses berpikir, perlahan lahan menghilang.
Di sinilah letak ironi dari status “nomor satu dunia” yang disandang Indonesia. Angka 61 persen itu bisa berarti dua hal yang bertolak belakang. Bisa jadi tanda bahwa masyarakat Indonesia sangat cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Tapi bisa juga jadi tanda bahwa masyarakat Indonesia sangat mudah tergoda oleh jalan pintas, terutama dalam konteks pendidikan yang selama ini memang sudah lama bermasalah dengan orientasi hasil dibanding orientasi proses.
Kenapa Pintar Menggunakan AI Tidak Sama dengan Pintar Berpikir Kritis
Salah satu kesalahpahaman yang paling sering muncul dalam diskusi soal AI dan pendidikan adalah anggapan bahwa kemampuan menggunakan teknologi otomatis mencerminkan kemampuan berpikir yang lebih baik. Padahal keduanya adalah dua keterampilan yang sama sekali berbeda.
AI generatif, termasuk model model bahasa besar, sangat unggul dalam menghasilkan teks yang terlihat koheren, meyakinkan, dan enak dibaca. Tapi kelancaran bahasa bukan jaminan kebenaran isi. AI bisa saja menghasilkan informasi yang keliru dengan gaya penyampaian yang sama percaya dirinya dengan informasi yang benar. Fenomena ini yang sering disebut halusinasi AI, dan risikonya menjadi jauh lebih besar ketika penggunanya, dalam hal ini pelajar, tidak memiliki fondasi berpikir kritis yang cukup untuk mempertanyakan apa yang mereka baca.
Kemampuan yang sebenarnya paling dibutuhkan di era ini bukan sekadar kemampuan teknis untuk mengoperasikan AI, melainkan kemampuan kognitif dan metakognitif untuk mengevaluasi apa yang dihasilkan AI. Ini mencakup kemampuan memilah fakta dari opini, memverifikasi klaim dengan sumber lain, mengenali bias dalam sebuah jawaban, dan menyadari kapan sebuah jawaban terlihat meyakinkan tapi sebenarnya rapuh secara logika.
Masalahnya, kemampuan kemampuan ini justru yang selama ini paling jarang diajarkan secara eksplisit dalam sistem pendidikan kita. Sekolah cenderung lebih fokus pada penyampaian materi dan pencapaian nilai, bukan pada pembentukan cara berpikir. Ketika AI hadir sebagai alat yang sangat mudah diakses, tanpa ada fondasi berpikir kritis yang kuat sebagai penyeimbang, yang terjadi bukan percepatan belajar, melainkan pelemahan bertahap pada otot berpikir yang seharusnya terus dilatih.
Bukan Soal Pakai atau Tidak, Tapi Soal Bagaimana Cara Memakainya
Bagian paling penting dari laporan OECD, yang sayangnya sering terlewat dalam diskusi publik, adalah temuan soal perbedaan kualitas hasil belajar berdasarkan cara penggunaan AI, bukan berdasarkan penggunaan AI itu sendiri.
Siswa yang menggunakan AI sekadar untuk menyalin atau menghasilkan jawaban secara instan, tanpa proses verifikasi atau evaluasi lebih lanjut, cenderung mencatatkan performa akademik yang lebih rendah dibanding siswa yang sama sekali tidak menggunakan AI. Ini temuan yang cukup mengejutkan sekaligus masuk akal. Ketika proses berpikir dilewati sepenuhnya, yang tersisa hanyalah keterampilan menyalin, bukan keterampilan memahami.
Sebaliknya, siswa yang dilatih untuk menggunakan AI sebagai mitra diskusi, yang diajarkan untuk mempertanyakan jawaban AI, membandingkannya dengan sumber lain, dan menggunakan AI sebagai pemantik pertanyaan baru bukan sebagai jawaban akhir, justru mengalami peningkatan kualitas belajar yang signifikan.
Perbedaan ini menegaskan satu hal penting. AI bukan masalahnya. Cara kita memperlakukan AI dalam proses belajar, itulah yang sebenarnya menentukan apakah teknologi ini akan menjadi alat yang memperkuat atau justru melemahkan kemampuan berpikir generasi muda.
Dengan kerangka ini, status Indonesia sebagai negara dengan penggunaan AI tertinggi untuk belajar seharusnya tidak dibaca sebagai prestasi yang berdiri sendiri. Angka itu perlu dipertanyakan lebih lanjut dengan pertanyaan susulan yang jauh lebih penting. Digunakan untuk apa persisnya AI itu oleh mayoritas penggunanya. Apakah untuk menyelesaikan tugas secepat mungkin, atau untuk memahami materi lebih dalam.
Risiko Jangka Panjang yang Jarang Dibicarakan
Kalau pola penggunaan AI yang berorientasi pada jalan pintas ini terus berlangsung tanpa ada intervensi, dampaknya tidak akan langsung terasa dalam waktu dekat, tapi akan sangat terasa dalam jangka panjang, terutama pada level individu maupun bangsa.
Pada level individu, generasi yang terbiasa mendapat jawaban instan tanpa melalui proses bernalar berisiko kehilangan kesabaran terhadap masalah masalah yang kompleks dan tidak memiliki jawaban tunggal. Padahal, banyak persoalan penting dalam kehidupan, mulai dari pengambilan keputusan karier, keuangan, hingga relasi sosial, justru membutuhkan kemampuan menoleransi ambiguitas dan berpikir bertahap, bukan kemampuan mencari jawaban tercepat.
Pada level yang lebih luas, sebuah bangsa yang unggul secara statistik dalam penggunaan teknologi, tapi lemah dalam kemampuan berpikir kritis warganya, berisiko menjadi bangsa yang sangat mudah dipengaruhi oleh informasi yang salah, sangat rentan terhadap misinformasi, dan sangat bergantung pada pihak lain untuk berpikir atas nama mereka. Ini risiko yang jauh lebih serius dibanding sekadar urusan nilai ujian atau produktivitas akademik.
Ironisnya, kemampuan berpikir kritis inilah yang justru menjadi salah satu keterampilan paling dicari di masa depan, terutama karena tugas tugas teknis dan repetitif semakin mudah digantikan oleh AI. Dalam dunia di mana AI bisa menjawab hampir semua pertanyaan yang bisa dijawab dengan cepat, nilai manusia justru terletak pada kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, mengevaluasi jawaban secara kritis, dan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak pasti. Kalau kemampuan inilah yang justru semakin melemah karena penggunaan AI yang keliru, maka status juara satu dunia dalam penggunaan AI untuk belajar bisa jadi bukan sebuah pencapaian, melainkan sebuah peringatan dini.
Jadi, Prestasi atau Alarm?
Data soal Indonesia sebagai pengguna AI untuk belajar tertinggi di dunia sebenarnya netral. Angka itu sendiri tidak baik dan tidak buruk. Yang menentukan baik atau buruknya adalah bagaimana angka itu terbentuk, dan yang lebih penting lagi, apa yang kita lakukan setelah mengetahuinya.
Kalau tingginya angka ini didorong oleh penggunaan AI yang reflektif, di mana pelajar diajarkan untuk mempertanyakan, memverifikasi, dan mengevaluasi jawaban AI, maka ini memang layak dirayakan sebagai bentuk adaptasi teknologi yang matang. Tapi kalau tingginya angka ini didorong oleh kebiasaan mencari jalan pintas, menghindari proses berpikir yang melelahkan, dan mengandalkan AI sebagai pengganti otak, maka ini bukan prestasi. Ini alarm.
Pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita ajukan bukan lagi seberapa banyak orang Indonesia menggunakan AI untuk belajar, tapi seberapa dalam mereka masih mau berpikir setelah mendapat jawaban dari AI. Teknologi seharusnya memperkuat proses bernalar, bukan menggantikannya sepenuhnya. Kalau kita hanya belajar untuk mendapat jawaban cepat tanpa memahami logika di baliknya, kita bukan sedang membangun generasi yang lebih cerdas, melainkan sedang membentuk generasi yang semakin malas berpikir, meski terlihat sangat produktif di permukaan.
Sumber data: Statista Consumer Insights, laporan PISA OECD (Organisation for Economic Co operation and Development).

