Dari SMA di Malang hingga Peneliti Kanker di Australia: Kisah Inspiratif Gio Fidelito

Minat dan ketertarikan terhadap suatu bidang ilmu yang dipupuk sejak masa sekolah bisa menjadi batu loncatan menuju karier internasional. Hal inilah yang dibuktikan oleh Gio Fidelito, seorang ilmuwan muda asal Indonesia yang kini meneliti penyakit kanker dan metabolisme di University of Melbourne, Australia.

Berawal dari rasa ingin tahu yang mendalam terhadap mata pelajaran biologi saat bersekolah di Malang, Gio berhasil menembus panggung riset global melalui ketekunan, pengalaman laboratorium, dan keberanian mengambil peluang.

Awal Mula Minat Biologi: Dari Malang hingga Fakultas Teknobiologi

Perjalanan akademik Gio Fidelito bermula ketika ia duduk di bangku SMA Kolese Santo Yusup, Malang. Ketertarikannya pada ilmu sains, khususnya biologi, makin membara setelah ia mengikuti kelas pengayaan biologi serta pelatihan biologi molekuler di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya.

Pengalaman awal tersebut meyakinkan Gio untuk melanjutkan pendidikan tinggi di bidang sains hayati (life sciences).

Beralih ke Biomedik di i3L University

Selepas lulus SMA, Gio melanjutkan kuliah di i3L University (Indonesia International Institute for Life Sciences), Jakarta. Awalnya ia mengambil program Bioteknologi. Namun, setelah mendalami berbagai bidang keilmuan, Gio memutuskan berpindah fokus ke Biomedik, khususnya biologi molekuler yang berkaitan langsung dengan kesehatan manusia.

“Setelah memahami cakupan tiap jurusan, saya merasa Biomedik lebih cocok. Saya merasa lebih tertarik pada biologi molekuler di bidang kesehatan,” ujar Gio.

Sejak semester pertama, Gio sudah mendapatkan gemblengan riset secara intensif di laboratorium. Hal ini membentuk pola pikirnya agar lebih sistematis, logis, dan kritis dalam menganalisis berbagai persoalan ilmiah.

Langkah Pertama ke Tingkat Internasional: Riset di China

Potensi besar Gio di bidang akademik dan riset makin terlihat selama masa kuliahnya. Dosen pengampunya saat itu, Dr. Richard Sutejo, mengungkapkan bahwa daya analitis dan inisiatif Gio sangat potensial. Bahkan, saat baru duduk di semester 6 pada mata kuliah Canceromics, Gio kerap membawakan presentasi mengenai temuan biomedis terbaru yang kualitasnya setara mahasiswa S3.

Keunggulan analitis ini membawa Gio meraih kesempatan riset internasional pertamanya di Soochow University, China, di bawah bimbingan Prof. Yufang Shi.

Pengalaman di China menjadi titik balik (turning point) penting dalam kariernya:

  • Mengenal Dunia Riset Global: Gio melihat secara langsung kehidupan harian (daily life) seorang peneliti di lingkungan akademik internasional.
  • Membuka Perspektif: Pengalaman tersebut menghapus keraguan dan memberikannya keberanian untuk mengejar karier peneliti di tingkat internasional.

Menembus Doktoral di University of Melbourne dan Meneliti Kanker

Setelah meraih gelar Sarjana (S1), Gio mengambil langkah besar dengan melanjutkan studi doktoral (PhD) di University of Melbourne, salah satu universitas papan atas dunia di Australia.

Meskipun sempat mengalami imposter syndrome atau keraguan atas kemampuan dirinya saat memasuki lingkungan berreputasi tinggi tersebut, bekal pengalaman akademik dan laboratorium dari Indonesia membantunya membangun kembali rasa percaya diri.

Meraih PhD dan Memimpin Program Riset

Gio berhasil menyelesaikan pendidikan S3 (PhD) pada tahun 2024. Saat ini, ia berkarier sebagai postdoctoral researcher di Metabolism and Diabetes Laboratory, Department of Anatomy and Physiology, University of Melbourne, di bawah arahan Prof. Matthew Watt.

Di laboratorium ini, Gio menjalankan dua jalur fokus penelitian:

  1. Riset Dasar (Basic Research): Mempelajari mekanisme molekuler yang mengatur metabolisme asam lemak pada tingkat selular.
  2. Riset Translasional (Translational Research): Meneliti penyakit kanker prostat, secara khusus berfokus pada bagaimana sel kanker memprogram ulang (reprogram) metabolismenya agar mampu bertahan hidup dan berkembang, sekaligus mencari target terapi pengobatan baru.

Selain meneliti kanker prostat, laboratorium tempatnya bekerja juga berfokus pada penyakit metabolik lain seperti perlemakan hati (fatty liver), obesitas, dan diabetes tipe 2.

Pesan Gio untuk Mahasiswa Indonesia: “Jangan Takut Bermimpi”

Keberhasilan Gio menembus jajaran peneliti internasional menjadi bukti nyata bahwa anak muda Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di ranah global. Melalui pengalamannya, Gio membagikan beberapa tips penting bagi mahasiswa Indonesia yang ingin berkarier di bidang riset internasional:

  1. Hilangkan Rasa Minder: Mahasiswa Indonesia memiliki potensi yang setara dengan mahasiswa luar negeri jika diberikan kesempatan yang sama.
  2. Mulai dari Langkah Kecil: Jangan ragu untuk memulai komunikasi, misalnya dengan mengirimkan surel (email) secara sopan kepada profesor atau peneliti luar negeri yang bidang risetnya sesuai dengan minatmu.
  3. Bangun Fondasi Riset Sejak Dini: Manfaatkan masa perkuliahan S1 untuk memperkuat keterampilan laboratorium, cara berpikir kritis, dan pemahaman konsep dasar.

“Jangan takut bermimpi. Terkadang kita merasa minder atau kurang mampu dibanding mahasiswa di luar negeri. Tapi percayalah, jika diberi kesempatan yang sama, kita juga mampu,” tegas Gio.

Kesimpulan

Kisah perjalanan Gio Fidelito—dari seorang siswa SMA di Malang yang menyukai biologi hingga kini menjadi ilmuwan riset kanker di University of Melbourne—memberikan inspirasi mendalam. Kerja keras, konsistensi dalam mengasah kemampuan riset, serta keberanian membuka diri terhadap peluang global adalah kunci suksesnya di panggung ilmu pengetahuan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *