Air Jakarta Tercemar Berat, Peneliti Ungkap Risiko Kesehatan Warga

CampusNet – Air bersih di Jakarta kian mengkhawatirkan. Sejumlah penelitian terbaru mengungkap bahwa kualitas air di ibu kota—baik sungai maupun air tanah—telah masuk kategori tercemar berat. Temuan ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman langsung bagi kesehatan jutaan warga Jakarta.

Pencemaran Air Jakarta: Apa yang Ditemukan Peneliti?

Peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset nasional menemukan bahwa sebagian besar sumber air di Jakarta mengandung bakteri berbahaya, limbah domestik, hingga mikroplastik. Parameter kualitas air seperti BOD, COD, total coliform, E. coli, nitrogen, dan fosfat kerap melampaui ambang batas aman.

Kondisi ini menunjukkan bahwa air tersebut tidak layak dikonsumsi secara langsung, bahkan berisiko meski telah melalui proses pengolahan sederhana.

Sungai di Jakarta Masuk Kategori Tercemar Berat

Seluruh sungai utama di Jakarta, termasuk Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, dan Sunter, dilaporkan berada dalam kondisi cemar sedang hingga cemar berat. Penyebab utamanya adalah:

  • Limbah rumah tangga (air bekas mandi, cucian, dapur)
  • Pembuangan tinja dari septic tank tidak standar
  • Limbah usaha dan industri skala kecil
  • Sampah plastik yang tidak terkelola

Sungai yang seharusnya menjadi sumber air baku justru berubah menjadi saluran limbah terbuka.

Air Tanah Warga Juga Tak Aman

Tak hanya sungai, air tanah dan sumur warga Jakarta juga menunjukkan tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan. Di beberapa wilayah padat penduduk, peneliti menemukan:

  • Kandungan bakteri E. coli dan coliform tinja
  • Indikasi rembesan septic tank ke akuifer
  • Kontaminasi dari limbah domestik sekitar

Kondisi ini diperparah oleh jarak sumur yang terlalu dekat dengan septic tank serta minimnya sistem pengolahan air limbah kota.

Mikroplastik: Ancaman Tak Kasat Mata

Penelitian juga mengungkap keberadaan mikroplastik dalam air hujan dan air permukaan di Jakarta. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui air minum dan makanan.

Meski dampak jangka panjangnya masih diteliti, mikroplastik berpotensi memicu:

  • Peradangan kronis
  • Gangguan sistem imun
  • Risiko gangguan hormonal

Ini menunjukkan bahwa pencemaran air Jakarta bukan hanya soal kotor, tetapi juga ancaman kesehatan jangka panjang.

Dampak Langsung bagi Kesehatan Masyarakat

Air tercemar berkaitan erat dengan meningkatnya risiko:

  • Diare, disentri, dan infeksi saluran pencernaan
  • Penyakit kulit akibat kontak air tercemar
  • Gangguan tumbuh kembang anak (stunting)
  • Paparan zat berbahaya dalam jangka panjang

Kelompok paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan masyarakat berpenghasilan rendah yang bergantung pada sumber air tidak teruji.

Mengapa Masalah Ini Terus Terjadi?

Beberapa akar persoalan pencemaran air Jakarta antara lain:

  1. Minimnya sistem pengolahan air limbah terpadu
  2. Ketergantungan pada septic tank individual
  3. Urbanisasi cepat tanpa infrastruktur air memadai
  4. Pengelolaan sampah yang belum optimal
  5. Lemahnya pengawasan pembuangan limbah

Tanpa perubahan sistemik, pencemaran air akan terus berulang.

Solusi dan Tantangan ke Depan

Pakar menilai solusi tidak bisa parsial. Diperlukan:

  • Pembangunan sistem pengolahan air limbah kota
  • Edukasi sanitasi dan air bersih
  • Penegakan hukum lingkungan
  • Pengurangan limbah plastik
  • Akses air bersih yang adil dan terjangkau

Air bersih bukan kemewahan, melainkan hak dasar warga kota.

Kesimpulan

Temuan para peneliti menegaskan bahwa air di Jakarta telah tercemar berat dan berisiko bagi kesehatan. Persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi cerminan tata kelola kota dan keadilan sosial. Tanpa langkah serius, krisis air bersih di Jakarta berpotensi menjadi bom waktu kesehatan publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok