CampusNet – Awalnya, pesan-pesan itu terlihat biasa. Saling membalas status, perkenalan, mengingatkan makan. Kian hari, pesan-pesan yang didapat semakin intensif dan mengekang. Muatan pesan pun semakin personal dan tidak biasa. Kapan kita akan menyadari perilaku grooming pada remaja?
Grooming Remaja: Bukan Sekadar Interaksi Biasa
Istilah grooming mulai dipopulerkan pada tahun 2000-an. Dilansir dari Metropolitan Police UK, grooming terjadi ketika seseorang (biasanya orang yang lebih dewasa) membangun hubungan dengan anak-anak, remaja, atau bahkan orang dewasa yang berisiko. Hubungan tersebut dimanfaatkan sehingga mereka dapat melecehkan atau memanipulasi korban untuk melakukan hal-hal yang mereka kehendaki. Grooming dapat terjadi dalam periode singkat sampai periode tahunan.
Grooming tidak hanya terjadi pada hubungan langsung. Dewasa ini, maraknya penggunaan media sosial menjadikan pelaku grooming merajalela. Batasan informasi privat dan publik semakin kabur seiring perkembangan fitur media sosial. Adanya fitur obrolan pada beberapa permainan semakin memudahkan pelaku menjebak korbannya. Di tahun lalu, salah satu gim terkenal, Roblox, menghadapi 35 gugatan terkait dugaan pelecehan. Hal tersebut memaksa Roblox untuk segera mengambil perubahan kebijakan. Saat ini, hanya pemain berusia legal yang dapat mengakses fitur pesan suara.
Waspadai Teknik Manipulasi Grooming pada Remaja
Tidak ada kekerasan anak dan remaja yang tidak sengaja terjadi, seseorang dalam hubungan tersebut–biasanya aktor yang lebih tua–membuat keputusan aktif untuk berbuat kekerasan. Pelaku grooming biasanya memanfaatkan kepolosan korbannya untuk melancarkan aksinya. Mereka mengambil kesempatan ketika korbannya merasa rapuh, dengan menawarkan bantuan atau “teman bercerita”. Pelaku juga membuat korban merasa spesial, seperti bercerita hal-hal pribadi dan berdalih bahwa pelaku hanya bercerita pada korban. Setelah korban percaya, pelaku akan menyalahgunakan kepercayaan tersebut untuk memanipulasi kepercayaan korban untuk memenuhi keinginan pelaku.
Terdapat beberapa perbedaan antara interaksi normal dengan interaksi yang mencurigakan. Interaksi yang sehat biasanya hanya membahas topik yang relevan seperti gim, pekerjaan, ataupun tugas. Remaja harus mulai mewaspadai apabila mulai mengarah ke hal privat yang tidak ada hubungannya dengan topik utama. Selain itu, indikasi grooming terlihat juga apabila lawan bicara tidak menghargai penolakan atau respons pesan yang terlambat. Pelaku grooming akan melancarkan guilt-tripping, yang merupakan bentuk manipulasi agar lawan bicara merasa bersalah untuk hal-hal yang tidak mereka lakukan.
Menghindari Victim Blaming
Grooming marak terjadi pada situasi pelaku dan korban yang mempunyai relasi kuasa yang “jomplang”. Pelaku grooming dapat berupa orang-orang yang memiliki kharisma, kuasa, atau status sosial yang lebih tinggi dari korban. Itu mengapa korban seringkali merasa sungkan untuk menolak karena pelaku menempatkan mereka sebagai orang yang mendidik korban. Grooming terjadi bukan karena korban yang kurang hati-hati, melainkan murni karena manipulasi pelaku yang memanfaatkan rasa kagum serta kenaifan korban.
Hal menjebak lainnya adalah pelaku seringkali seolah tidak melihat korban sebagai seseorang yang tidak memiliki kuasa. Mereka menyisipkan pemahaman palsu pada korban bahwa korban memiliki hak untuk menyampaikan apabila ada hal yang membuat tidak nyaman. Setelah itu, pelaku kembali memanipulasi korban agar korban diam. Perilaku tersebut membuat korban semakin merasa bersalah dan membuat mereka merasa bertanggung jawab untuk menjaga rahasia kekerasan tersebut. Mereka acapkali menerapkan gaslighting pada korban, dengan menunjukkan kebingungan dan membuat korban mempertanyakan perilakunya sendiri, serta membuat skenario yang palsu.
Menjaga Tembok Digital
Menjaga ‘tembok’ digital bukan berarti menutup diri sepenuhnya dari interaksi. Namun, ini tentang melatih kembali intuisi kita terhadap batasan (boundaries). Jika sebuah notifikasi mulai membuatmu merasa tidak nyaman, tertekan, atau terisolasi dari lingkungan sekitar, jangan ragu untuk menekan tombol restrict atau block.
Ingat, kamu tidak berkewajiban menjaga rahasia siapa pun yang membuatmu merasa tidak aman. Berbagi cerita dengan teman kepercayaan atau orang dewasa yang waras bukan berarti kamu ‘lemah’, melainkan langkah awal untuk meruntuhkan tembok manipulasi yang sedang pelaku bangun. Di ruang digital yang luas ini, otoritas tertinggi atas keamananmu tetap ada di tanganmu sendiri.
Baca Juga: Mengenal Grooming: Ancaman Tersembunyi dan Cara Mencegahnya


