CampusNet – Isu kebocoran data kembali menghantam sektor pendidikan tinggi. Data alumni dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia diduga bocor dan diperjualbelikan di forum gelap (dark web). Dalam temuan terbaru, setidaknya tiga kampus disebut terdampak, yakni Universitas Siliwangi, Universitas Islam Lamongan, dan Universitas Tanjungpura.
Informasi mengenai dugaan kebocoran ini pertama kali beredar di media sosial dan forum internet. Unggahan tersebut menampilkan tangkapan layar basis data yang diklaim berisi identitas alumni dan mahasiswa, seperti nama lengkap, nomor induk mahasiswa (NIM), program studi, tahun angkatan, hingga data kontak.
Sejumlah alumni dari kampus yang disebut mengaku mulai menerima telepon mencurigakan, pesan spam, hingga dugaan penipuan yang mengatasnamakan institusi pendidikan tempat mereka menempuh studi. Modus yang digunakan antara lain tawaran layanan administrasi kampus, tracer study, hingga permintaan pembaruan data.
Menanggapi isu tersebut, pihak kampus menyatakan masih melakukan penelusuran internal untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang memastikan bahwa data tersebut bocor langsung dari sistem internal universitas. Beberapa kampus juga mengimbau mahasiswa dan alumni agar tetap waspada terhadap segala bentuk komunikasi mencurigakan.
Pakar keamanan siber menilai, lemahnya perlindungan sistem informasi pendidikan menjadi salah satu faktor utama maraknya kebocoran data di lingkungan kampus. Sistem akademik yang sudah lama digunakan, minimnya audit keamanan, serta keterlibatan vendor pihak ketiga kerap menjadi celah bagi pelaku kejahatan siber.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan keamanan data pribadi di Indonesia, khususnya di sektor pendidikan. Padahal, perlindungan data pribadi telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang mewajibkan pengelola data menjamin keamanan informasi yang dikelolanya.
Hingga kini, publik masih menunggu hasil investigasi resmi serta langkah konkret dari pihak kampus dan otoritas terkait untuk memastikan keamanan data mahasiswa dan alumni serta mencegah kebocoran serupa di masa mendatang.


