Dugaan Face Recognition saat Aksi Solidaritas Arianto Tawakal, Mahasiswa Yogyakarta Mengaku Resah

CampusNet – Sejumlah mahasiswa di Yogyakarta mengaku khawatir setelah muncul kabar mengenai dugaan penggunaan teknologi face recognition untuk mengidentifikasi peserta aksi solidaritas bagi Arianto Tawakal. Informasi tersebut mulai beredar di kalangan mahasiswa beberapa hari setelah aksi berlangsung.

Mahasiswa menggelar aksi solidaritas pada 19 Februari 2026 di depan Polda DIY untuk mendukung Arianto Tawakal. Arianto merupakan seorang siswa yang meninggal dunia setelah anggota Brimob diduga melakukan kekerasan terhadapnya pada Februari lalu. Tempo juga melaporkan munculnya kekhawatiran di kalangan mahasiswa setelah aksi tersebut berlangsung.

Informasi Identifikasi Peserta Aksi Beredar Dua Hari Setelah Demonstrasi

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta, Muhammad Risyad Hanafi, mengatakan kabar mengenai penggunaan teknologi pengenal wajah mulai beredar sekitar dua hari setelah aksi berlangsung.

Menurutnya, pesan yang beredar menyebut aparat mengidentifikasi peserta aksi melalui rekaman video demonstrasi dengan menggunakan teknologi face recognition.

Pesan tersebut juga menyebut enam mahasiswa berhasil dikenali melalui teknologi tersebut. Selain itu, informasi yang beredar mencantumkan bahwa mahasiswa yang teridentifikasi merupakan mahasiswa aktif dari UPN Veteran Yogyakarta.

Risyad kemudian mencoba memverifikasi kabar tersebut dengan menghubungi sejumlah mahasiswa dan jaringan alumni yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Dari penelusuran itu, ia menemukan bahwa beberapa orang lain juga menerima pesan serupa.

Ia juga mempertanyakan mengapa informasi yang beredar hanya menyebut mahasiswa dari satu kampus, padahal peserta aksi yang hadir berasal dari berbagai universitas di Yogyakarta.

Face Recognition Mahasiswa Yogyakarta: Mahasiswa Mengaku Alami Gangguan Akun Media Sosial

Selain isu pemantauan digital melalui teknologi pengenal wajah, sejumlah mahasiswa juga mengaku mengalami gangguan pada akun media sosial mereka setelah aksi berlangsung.

Beberapa mahasiswa melaporkan peretasan pada akun yang biasa mereka gunakan untuk menyebarkan informasi gerakan. Peretasan tersebut membuat sebagian akun tidak dapat diakses selama dua hingga tiga hari.

Risyad mengatakan situasi seperti ini bukan pertama kali terjadi. Ia menyebut mahasiswa pernah mengalami kejadian serupa setelah rangkaian aksi demonstrasi di Yogyakarta sejak Agustus tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa mulai meningkatkan kewaspadaan saat mengikuti aksi. Beberapa di antaranya menggunakan penutup wajah dan membatasi aktivitas digital mereka.

Polisi Sempat Mengamankan Mahasiswa saat Demonstrasi

Dalam aksi solidaritas yang berlangsung pada 19 Februari 2026, aparat kepolisian sempat mengamankan tiga mahasiswa ketika situasi demonstrasi memanas.

Namun setelah itu, pihak kepolisian menyerahkan mahasiswa tersebut kembali kepada pihak rektorat kampus masing-masing.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian terkait dugaan penggunaan teknologi face recognition untuk mengidentifikasi peserta aksi solidaritas tersebut.

Baca juga: Mengayomi dalam Kata, Menghabisi dalam Kuasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *