CampusNet – Dahulu, kita mengenal musik dengan genre yang terbatas, seperti pop, jazz, dan klasik. Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak irama-irama dan genre baru yang mencuat ke permukaan. Salah satu genre baru tersebut adalah hiphop dangdut, yang lebih dikenal dengan hipdut. Hipdut kini menjadi angin segar dalam industri permusikan Indonesia.
Mengenal Musik Hipdut: Perpaduan Hiphop Anak Muda dan Dangdut
Hiphop dangdut, atau Hipdut, merupakan genre baru yang menyatukan genre hiphop dan dangdut. Fenomena Hipdut hadir sebagai modifikasi gen yang lebih muda terhadap musik dangdut yang lebih digemari oleh generasi sebelumnya. Musik genre dangdut yang lebih kaku dan saklek berpadu dengan musik hiphop yang relatif lebih lekat dengan ekspresi bebas dan memiliki identitas anak muda. Hipdut juga semakin melejit dengan maraknya platform bermusik seperti Spotify dan Tiktok.
Ketenaran hipdut sendiri terbukti dari banyaknya angka pendengar. Salah satu lagu hipdut yang viral yaitu “Garam dan Madu” mendapatkan lebih dari 100 juta stream di Youtube. Begitu pula dengan NDX AKA, salah satu pelopor hipdut, yang mendapatkan 12 juta pendengar setiap bulannya. Angka fantastis ini mereka dapatkan dengan melejitnya tren tiktok yang biasanya berupa velocity dance ataupun quotes yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda.
Fenomena Hipdut dan Musik Anak Muda
Hipdut lekat dengan budaya partisipatif, banyaknya remix lagu pop menjadi hipdut menandai budaya tersebut. Salah satu pengusung genre Hipdut, NDX AKA, juga mengawali karirnya dengan me-remix lagu-lagu terkenal dan menambahkan sentuhan Hipdut di dalamnya. NDX memulai karirnya di Yogyakarta, yang lambat laun melebarkan karirnya hingga dapat melaksanakan tur Indonesia bertepatan dengan ulang tahun ke-13nya di 2024 silam. Karakteristik liriknya yang memadukan istilah slang, membuat lagu mereka melejit di kalangan anak muda, tak terkecuali mahasiswa.
Salah satu mahasiswa penggemar NDX AKA, Firhan, yang merupakan mahasiswa IPB University perantau dari Jawa Tengah. Firhan menyatakan telah menjadi penggemar NDX AKA sejak 2018, jauh sebelum mereka terkenal seperti sekarang. Firhan mengungkapkan bahwa ia sering memutar lagu Hipdut, “Cukup sering yah, NDX jadi artis teratas di Spotify Wrap saya. Saya mendengarkan lagu NDX seringnya waktu sendiri, di kost, waktu skripsian atau beres-beres kamar,” ujarnya dalam wawancara daring (10/1).
Ia juga menambahkan bahwa terdapat familiaritas dengan lagu-lagu NDX sehingga cocok untuk mahasiswa perantau. Filosofinya yang dalam juga membuat lagu mereka berbeda dari lagu kebanyakan. “Karena liriknya menggunakan Bahasa Jawa, sehingga anak muda mudah paham apalagi dengan (latar belakang) saya yang merupakan orang jawa. NDX tuh benar-benar berbeda lah dari lagu-lagu yang lain. Filosofinya juga bisa bermakna di lagu-lagu semacam ini,” tuturnya.
Perubahan Paradigma Hipdut
Firhan juga menyetujui terkait perubahan pandangan anak muda atas fenomena Hipdut. Menurutnya, saat ini semakin banyak teman-teman mahasiswanya yang tidak memahami Bahasa Jawa yang turut mendengarkan lagu-lagu Hipdut. Meskipun ketika pertama merantau ia merasa hanya dapat mendengarkan lagu NDX saat sendiri, kini lebih banyak yang menyadari bahwa musik Hipdut asik untuk didengarkan. “Awal-awal saya merantau, saya merasa banyak yang tidak paham. Hal itu mungkin ditambah dengan sedikitnya mahasiswa yang berasal dari Jawa Tengah, ya. Semakin ke sini, semakin banyak yang setuju bahwa musik NDX itu enak dan mempunyai makna yang dalam,” ungkapnya.
Maraknya pengguna aplikasi Tiktok juga berperan dalam relevansi Hipdut di kalangan Gen Z. Ramainya tren Velocity Dance yang menggunakan lagu Hipdut membuktikan bahwa irama Hipdut mudah teringat sehingga memperbesar viralitasnya. Lagu-lagu hipdut juga banyak yang bercerita tentang kehidupan remaja. Firhan mengamini makna dalam lagu NDX “Lagu Jawa, spesifiknya lagu Hipdut, sebagian besar lagunya bercerita tentang perjuangan, kisah anak muda. Hal tersebut menyadarkan terhadap kondisi kita yang harus berjuang. Ada beberapa lagu spesifik tentang seorang laki-laki yang harus bekerja keras. Lagu-lagu tersebut NDX kemas dengan lirik, nada yang fleksibel, sehingga Gen Z mudah mendengar dan memahaminya,” tutur Firhan.
Harapan Langgengnya Fenomena Hipdut
Melansir dari CXOMedia, Hipdut masih menghadapi beberapa tantangan. Kualitas produksi, branding, dan promosi masih diperlukan untuk menyokong keberlanjutan genre ini. Dukungan pemerintah terhadap genre Hipdut juga diperlukan agar Hipdut tidak hanya menjadi tren sekilas semata, namun mampu eksis hingga mancanegara. Firhan juga menyampaikan harapan agar Hipdut, terutama Hipdut Jawa, tidak kehilangan identitasnya. “Untuk musik Hipdut, semoga seiring berjalannya waktu semakin berkembang. Semakin canggih teknologi juga harapannya semakin banyak platform untuk para seniman di genre ini. Ada pepatah Jawa yang mengungkapkan bahwa ‘Orang Jawa tidak boleh hilang Jawanya’. NDX yang menjadi grup musik Hipdut favorit saya semoga bisa semakin bersinar. Terakhir, semoga dapat membuktikan pada khalayak umum bahwa genre musik ini bukan genre sembarangan.” Tutupnya.
Baca Juga: Mood Belajar Naik Dengan Dengerin Musik Tempo Ini


