Fenomena Whipping, Tren Berbahaya di Kalangan Remaja

CampusNet – Fenomena whipping, atau tren menghirup gas N2O (dinitrogen oksida) kini semakin marak di kalangan remaja Indonesia. Masyarakat luas mengenali tren global ini melalui istilah populer fenomena whipping, sedangkan remaja Indonesia menggunakan istilah “ngebalon” untuk mengenali tren ini. Pengguna biasanya mendapatkan gas ini dari tabung pengisi untuk membuat whipping cream. Pengguna zat ini biasanya mengejar sensasi euforia singkat yang muncul dalam hitungan detik. Namun, siapa sangka, tren baru ini menyimpan ancaman medis yang sangat serius bagi penggunanya.

Penyebaran Fenomena Whipping

Mengutip dari jurnal Nitrous Oxide Use Among College Students, gas NO2 sangat mudah untuk berpindah tangan. Hal ini terjadi karena murahnya harga N2O membuat remaja mampu membelinya dengan sisa uang jajan mereka. Selain itu, N2O juga diperjualbelikan secara bebas karena penggunaan utamanya yaitu untuk industri kuliner. 

Di luar legalitas zat, remaja dapat terbawa oleh teman-temannya yang melakukan aksi serupa di berbagai pesta. Tekanan lingkungan yang ada memaksa remaja mencoba gas ini agar tidak terlihat kuno atau “udik”. Remaja merasa aman menggunakan inhalan tersebut karena pemerintah belum membuat regulasi ketat terhadap produk kuliner tersebut.

Media sosial juga turut mempercepat penyebaran tren berbahaya ini ke seluruh penjuru dunia. Video TikTok sering menampilkan remaja yang tertawa-tawa setelah menghirup gas, membuat gas tersebut memiliki julukan “The Laughing Gas”. Konten-konten yang ada memberikan kesan bahwa kegiatan menghirup inhalan ini seolah-olah merupakan hiburan yang “bersih”. Padahal, gas N2O dapat memicu kematian mendadak akibat kekurangan oksigen kronis. Hal ini mulai memicu kekhawatiran ahli kesehatan terkait normalisasi penggunaan zat inhalan berbahaya tersebut.

Kerusakan Saraf Akibat Fenomena Whipping

Selain menyebabkan halusinasi, gas N2O juga berpotensi untuk melumpuhkan fungsi vitamin B12. Hal tersebut membahayakan tubuh penggunanya karena vitamin B12 sangat krusial untuk menjaga kesehatan sel saraf serta pembentukan myelin. Artikel jurnal Neurological Rarities menyebutkan bahwa gas ini mengoksidasi ion kobalt dalam tubuh manusia. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan sistem saraf yang menyerupai sindrom Guillain-Barré. Bahkan, beberapa pasien mengalami kelumpuhan kaki hingga memerlukan kursi roda selamanya.

Kebiasaan menghirup inhalan dapat memicu kondisi medis bernama degenerasi kombinasi subakut pada sumsum tulang belakang. Gejala awalnya meliputi rasa kesemutan pada jari tangan serta kaki para pasien. Apabila dibiarkan, otot-otot tubuh mulai melemah sehingga seseorang sulit untuk berjalan tegak kembali. Meskipun mendapatkan suplemen vitamin, beberapa kasus ekstrem menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh penggunanya.

Kenyataannya, banyak pengguna tidak menyadari risiko jangka panjang dari fenomena whipping ini. Mereka menganggap efek samping gas hanya berupa pusing ringan yang sementara saja. Padahal, penggunaan berulang dapat merusak kemampuan kognitif dan fokus akademik para mahasiswa. Kerusakan saraf tersebut bersifat akumulatif dan seringkali tidak menunjukkan tanda peringatan dini. 

“PR” Legalitas dan Edukasi

Pemerintah perlu segera mengetatkan aturan penjualan tabung N2O untuk industri kuliner. Saat ini, status legal high membuat anak muda dapat membeli zat tersebut dengan sangat mudah secara daring. Sekolah harus berperan aktif memberikan literasi digital mengenai bahaya konten viral tersebut. Kampus juga bisa menyediakan layanan konseling bagi mahasiswa yang terjebak dalam masalah ini. Kesadaran bersama adalah senjata terkuat untuk melawan tren penghancur masa depan anak muda ini.

Baca Juga: Cegah Kenakalan Remaja, Polsek Metro Tamansari Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Tawuran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok