Harga Emas Kian Melonjak, Perak Jadi Pilihan Logam Mulia yang Lebih Terjangkau

CampusNet – Harga emas dunia kembali melonjak dan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Nilainya kini melampaui US$ 5.000 per troy ons dan mencatatkan level all time high. Dilansir dari laman Investor.id, pada perdagangan Senin (26/1/2026), harga emas spot menguat hampir 1% dan bertahan di kisaran US$5.029 per troy ons, sejalan dengan kenaikan kontrak berjangka emas AS.

Lonjakan harga ini mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Pada saat yang sama, sebagian investor mulai melirik perak sebagai alternatif logam mulia yang lebih terjangkau untuk mendiversifikasi investasi.

Harga Emas yang Terus Naik

Kenaikan harga emas terus berlanjut seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk gesekan antara Amerika Serikat dan NATO terkait Greenland. Situasi ini mendorong investor mencari aset aman dan memberi dorongan tambahan pada harga emas sepanjang tahun ini. Di Indonesia, pergerakan pasar global tersebut langsung tercermin pada harga emas batangan yang diperdagangkan di dalam negeri.

Pada Senin, 26 Januari 2026, harga emas Antam di Pegadaian naik Rp48.000 menjadi Rp3.208.000 per gram. Harga emas UBS juga meningkat Rp44.000 ke level Rp3.018.000 per gram, sementara emas Galeri24 naik Rp44.000 menjadi Rp2.965.000 per gram. Di sisi lain, harga buyback tercatat Rp2.672.000 per gram untuk Antam, Rp2.778.000 per gram untuk UBS, dan Rp2.781.000 per gram untuk Galeri24. Lonjakan harga ini menegaskan ironi baru, ketika satu gram emas kini setara dengan upah minimum bulanan di sejumlah daerah.

Perak Mulai jadi Pilihan

Di tengah mahalnya harga emas, perak mulai muncul sebagai alternatif logam mulia yang menarik perhatian investor. Kenaikan harga perak mencerminkan pergeseran minat pasar ke aset logam mulia yang lebih terjangkau dari emas. Mengutip investor.id, harga perak murni Antam pada Senin (26/1/2026) naik Rp1.350 dan menembus level baru di Rp65.600 per gram, melampaui batas Rp65.000 per gram. Kenaikan ini menegaskan bahwa minat investor terhadap perak terus menguat seiring perubahan strategi investasi masyarakat.

Meski sama-sama logam mulia, perak memiliki karakter investasi yang berbeda dari emas. Mengutip usmtv.id, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan investor membeli perak dalam bentuk batangan atau koin agar mereka lebih mudah menjualnya kembali. Harga perak yang lebih terjangkau memungkinkan investor mengumpulkan gramasi lebih besar dengan modal yang sama. Namun, perak bergerak lebih fluktuatif dan memiliki selisih harga beli–jual yang lebih lebar, sehingga strategi pembelian bertahap menjadi pilihan yang lebih aman bagi pemula.

Pandangan serupa disampaikan Perencana Keuangan OneShildt Consulting, Budi Rahardjo, yang menekankan perak sebagai instrumen investasi jangka panjang. Perak hanya menawarkan potensi keuntungan dari kenaikan harga, bukan pendapatan rutin. Ia juga mengingatkan tantangan penyimpanan dan likuiditas, karena volume fisik perak bisa jauh lebih besar daripada emas dan pasar jual kembalinya masih terbatas. Meski demikian, perak tetap menarik untuk mendiversifikasi portofolio selama investor memahami risikonya dan menyiapkan strategi yang tepat.

Kesimpulan

Kenaikan harga emas mendorong investor melirik perak sebagai alternatif logam mulia yang lebih terjangkau. Perak menawarkan peluang investasi dengan modal lebih kecil dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Namun, investor perlu memahami fluktuasi harga, risiko likuiditas, dan kebutuhan penyimpanan yang lebih besar. Dengan strategi yang tepat dan tujuan jangka panjang, investor dapat memanfaatkan perak sebagai pelengkap investasi emas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok