CampusNet – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026. Perjanjian ini disebut sebagai babak baru hubungan dagang kedua negara, dengan fokus pada penurunan tarif, penghapusan hambatan non-tarif, hingga pengaturan perdagangan digital.
Lantas, apa saja isi utama kesepakatan tersebut?
Penurunan dan Penghapusan Tarif
Salah satu poin paling menonjol dalam ART adalah komitmen penurunan tarif bea masuk.
- AS memberikan pembebasan atau penurunan tarif hingga 0% untuk ribuan produk ekspor Indonesia, termasuk komoditas seperti minyak sawit, kopi, kakao, karet, serta sejumlah produk manufaktur dan elektronik.
- Sebaliknya, Indonesia berkomitmen menghapus hampir seluruh tarif impor untuk produk asal AS, mencakup barang industri, pertanian, otomotif, hingga teknologi kesehatan.
Langkah ini dinilai dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar AS sekaligus memperluas akses barang AS ke pasar domestik.
Penghapusan Hambatan Non-Tarif
Selain tarif, perjanjian ini juga menyentuh hambatan non-tarif (non-tariff barriers).
Indonesia sepakat menyederhanakan sejumlah regulasi teknis, termasuk:
- Pengakuan standar keselamatan dan emisi kendaraan dari AS.
- Penyederhanaan proses sertifikasi alat kesehatan dan obat.
- Penyesuaian aturan pelabelan dan prosedur kepabeanan.
Tujuannya adalah mempercepat arus barang dan mengurangi biaya administrasi perdagangan.
Perdagangan Digital dan Transfer Data
ART juga mencakup bab khusus mengenai digital trade.
Di dalamnya terdapat komitmen untuk mendukung aliran data lintas batas (cross-border data flow). Namun, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa:
- Transfer data tidak bersifat bebas tanpa batas.
- Seluruh pengelolaan data tetap tunduk pada regulasi nasional, termasuk Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
- Kedaulatan hukum atas data warga negara tetap berada di tangan Indonesia.
Isu ini menjadi salah satu bagian yang paling banyak mendapat perhatian publik.
Komitmen Impor dan Kerja Sama Energi
Dalam kerangka keseimbangan perdagangan, Indonesia juga disebut memiliki komitmen pembelian produk tertentu dari AS, termasuk sektor energi dan pertanian. Nilainya diperkirakan mencapai miliaran dolar AS per tahun.
Selain itu, kedua negara mendorong peningkatan investasi di sektor:
- Energi dan hilirisasi
- Infrastruktur
- Teknologi dan ekonomi digital
Pembentukan Dewan Perdagangan RI–AS
Sebagai bagian dari implementasi ART, dibentuk Dewan Perdagangan bilateral yang bertugas:
- Memantau pelaksanaan perjanjian
- Menyelesaikan sengketa dagang secara bilateral
- Mengevaluasi hambatan baru yang mungkin muncul
Mekanisme ini diharapkan membuat penyelesaian masalah lebih cepat tanpa harus langsung dibawa ke forum multilateral.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Secara umum, pemerintah menyebut perjanjian ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan ekspor Indonesia ke pasar AS
- Menarik investasi asing
- Memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha
- Memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global
Namun, sejumlah pengamat menilai implementasi dan pengawasan akan menjadi kunci, terutama terkait perlindungan industri dalam negeri serta tata kelola data pribadi.
Perjanjian ini kini memasuki tahap implementasi, dan efektivitasnya akan sangat bergantung pada regulasi turunan serta kesiapan pelaku usaha di kedua negara.


