CampusNet – Di tengah derasnya hujan yang mengguyur Jakarta, api perlawanan rakyat justru semakin membesar. Kobaran ban terbakar di depan Polda Metro Jaya malam ini bukan sekadar bara, melainkan simbol kemarahan yang sudah tak bisa dibendung. Seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas mengenaskan dilindas rantis Brimob. Nyawa melayang, tetapi aparat justru berdalih, berkelit, dan terkesan menutup diri.
Kini publik bertanya lantang: untuk siapa polisi bekerja?
Apakah benar untuk rakyat, atau semata-mata untuk melindungi kekuasaan?
Desakan Mundur dari Jalanan hingga Dunia Maya
Gelombang desakan agar Kapolri mundur menggelegar di jalanan dan dunia maya. Warganet memadati lini masa dengan kritik pedas, sementara artis dan musisi turut angkat suara. Dari panggung hiburan hingga forum publik, satu suara sama-sama digaungkan: Kapolri harus bertanggung jawab.
Semboyan “melindungi dan mengayomi” kini terdengar sebagai ejekan pahit. Bagaimana mungkin rakyat percaya pada institusi yang aparatnya tega menindas hingga menghilangkan nyawa seorang pencari nafkah harian?
Transparansi yang Dipertanyakan
Polri memang berjanji akan transparan dengan mengamankan tujuh anggotanya yang berada di dalam rantis saat tragedi. Namun, janji tinggal janji bila tidak disertai langkah nyata. Publik tak lagi puas dengan sekadar pernyataan pers. Transparansi bukanlah drama panggung. Transparansi adalah keberanian membuka kebenaran apa adanya.
Krisis Legitimasi yang Nyata
Setiap kali aparat memukul, menembakkan gas air mata, atau melindas rakyatnya sendiri, satu demi satu batu bata kepercayaan runtuh. Apa yang tersisa hanyalah institusi yang tampak gagah, tetapi rapuh dari dalam. Bila Kapolri bersikeras bertahan, krisis legitimasi hanya akan makin dalam.
Mundur Sebagai Kehormatan
Seorang pemimpin sejati tidak bersembunyi di balik barisan komandan, juga tidak mengorbankan anggotanya sebagai tameng. Seorang pemimpin sejati berani mengakui kesalahan, lalu mengambil langkah mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Mundur bukanlah aib. Mundur bisa menjadi jalan untuk menyelamatkan marwah institusi dan memberi ruang bagi pembaruan. Namun jika Kapolri memilih bertahan, maka sejarah yang akan mengadili—dan rakyat tak akan lupa.