CampusNet – BRIN menaikkan anggaran riset secara fantastis menjadi Rp1,9 triliun tahun ini, untuk mengejar ketertinggalan inovasi. Kebijakan ini bertujuan membawa riset Indonesia tembus ke peringkat 45 dunia. Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan kabar gembira tersebut dalam forum diskusi media. Mahasiswa S1 hingga pascasarjana kini dapat menggunakan fasilitas laboratorium secara gratis. BRIN menjalin kolaborasi erat dengan Kemdiktisaintek untuk mewujudkan program strategis tersebut. Langkah besar ini menjadi bentuk komitmen negara mendukung talenta muda berprestasi.
Kenaikan Anggaran BRIN untuk Tembus Peringkat 45 Dunia
Indonesia memiliki posisi riset yang masih lemah di kancah internasional. Berdasarkan laporan tahunan Global Innovation Index (GII) tahun 2025, Indonesia menempati posisi 55 dari 139 negara, dengan nilai indeks 31,3. Meskipun nilai mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, posisi tersebut tertinggal dari negara-negara di ASEAN seperti Singapura dengan skor 59,9 dan Malaysia dengan skor 40,6. Tercatat dari tujuh kriteria, Indonesia tertinggal dalam kriteria penelitian dan SDM, sofistikasi bisnis, hasil teknologi dan pengetahuan, serta hasil kreativitas.
BRIN mengambil langkah strategis untuk memperbaiki posisi riset Indonesia dengan meningkatkan dana dan menguatkan inovasi nasional. BRIN menempuh langkah tersebut dengan memproyeksikan kenaikan dana riset yang pesat di tahun 2026, hampir lima kali lipat dari angka sebelumnya. Total alokasi dana BRIN mencapai Rp1,9 triliun yang akan terbagi ke dalam komponen-komponen tertentu. LPDP Mendukung peningkatan tersebut dengan komitmen dana abadi penelitian sebesar Rp12,99 triliun. Apabila Dewan Penyantun memberikan arahan, BRIN dapat menyalurkan dana tambahan sebesar Rp1 miliar.
RIIM: Mesin Penggerak Inovasi Indonesia
Demi mewujudkan iklim riset inklusif, BRIN meluncurkan pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). Dilansir dari artikel resmi BRIN, RIIM merupakan skema pendanaan yang dapat diakses oleh semua kalangan, baik peneliti internal BRIN, perguruan tinggi, hingga organisasi masyarakat. Sejak dimulai pada tahun 2022, program RIM telah melibatkan 200 perguruan tinggi ternama dan 90 institusi riset, menghasilkan 2.600 publikasi ilmiah dan 1210 kekayaan intelektual. RIIM mengarah pada riset sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, hingga human capital index (HCI). Anggaran untuk RIIM tersebar dalam tiga pos, dengan rincian sebagai berikut:
- Riset Inovasi Strategis: Rp1,2 triliun
- RIIM Kompetisi Lanjutan: Rp494 miliar
- RIIM Kompetisi Intake Baru: 300 miliar
Fasilitas BRIN bagi Inovasi Mandiri Mahasiswa
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap minat talenta muda, BRIN akan menggratiskan fasilitas penelitian bagi mahasiswa S1 dan S2 yang akan melakukan riset mandiri. BRIN menginisiasi kebijakan tersebut untuk mempermudah akses masyarakat terhadap fasilitas BRIN yang sebelumnya berbayar. Kebijakan ini juga menjadi salah satu bentuk kolaborasi dengan Kemdiktisaintek untuk mempermudah akses infrastruktur riset nasional bagi mahasiswa.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyebutkan bahwa hal ini dapat memperkuat ekosistem penelitian nasional. “Tadi saya sampaikan di berbagai kesempatan juga. Bahwa kita akan membebaskan biaya bagi mahasiswa S-1, S-2, yang studi mandiri, yang riset mandiri.” Ujarnya pada acara Media Lounge Discussion di Gedung BJ Habibie BRIN, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025). Ia juga menyampaikan harapan terwujudnya komitmen untuk mencetak “Habibie Muda” di generasi muda Indonesia.


