CampusNet – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap berjalan selama Bulan Ramadan. Kepala BGN, Dadan Hindayana menyampaikan pernyataan ini setelah rapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (20/1). Mekanisme penyaluran MBG kurang lebih sama seperti biasanya, namun BGN akan memastikan bahwa makanan tahan hingga 12 jam. Di satu sisi, kebijakan ini melegakan bagi keluarga pra sejahtera yang kesulitan untuk memberikan makanan berbuka puasa bergizi bagi anak-anaknya. Namun, bagaimana cara pemerintah memastikan bahwa makanan tersebut aman?
Kesegaran Makanan MBG Ramadan
BGN telah memastikan bahwa makanan MBG pada Bulan Ramadan serupa dengan MBG pada hari-hari biasa, yaitu makanan segar dan matang seperti telur rebus. Selain makanan matang, ada beberapa menu yang menjadi tambahan seperti susu dan kurma. Terlihat pemerintah ingin memberikan jaminan bahwa makanan yang sampai tepat sasaran. Nampaknya pemerintah berkaca pada kasus penyalahgunaan Bantuan Sosial (Bansos) oleh keluarga penerima bantuan. Salah satu kasus terbaru yang tersorot adalah beras bansos yang terjual kembali di pasaran Tasikmalaya akibat rasanya kurang enak. Pemberian makanan matang akan mengurangi risiko penjualan MBG.
Namun, di balik ketepatan sasaran, masih tersimpan kekhawatiran terkait masalah keamanan pangan (food safety). Maraknya kasus keracunan MBG bahkan ketika siswa langsung menyantap MBG menimbulkan polemik untuk keamanan penyaluran MBG selama Ramadan. Terlebih Indonesia yang merupakan negara tropis dengan kelembapan tinggi menambah risiko berkembangnya bakteri Salmonella, E.Coli, dan Staphylococcus. Hal tersebut terbukti dari kasus keracunan MBG di Bogor, hasil pemeriksaan lab mengarah pada kontaminasi bakteri tersebut sebagai penyebab keracunan.
Pedoman DPR RI untuk Makanan MBG Ramadan
Komisi IX DPR RI juga menegaskan prioritas keamanan program MBG selama Bulan Ramadan. Melansir Metrotvnews, Legislator menyebutkan bahwa bahan baku segar dan tanpa pengawet menjadi syarat utama bahan baku MBG. Syarat ini menjamin kualitas nutrisi dan keamanan pangan agar makanan MBG tetap layak konsumsi.
“Yang pasti bukan makanan yang mengandung bahan pengawet. Itu tidak boleh. Makanan yang harus fresh. Fresh loh ya, (mulai dari) dari bahan baku, fresh loh. Bukan bahan baku yang sudah diawetkan, walaupun tahan 12 jam,” tegas Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani Chaniago (20/1). Irma memperingatkan BGN agar lebih cermat mengatur strategi waktu produksi agar hidangan yang kesegaran hidangannya terjamin. “Jangan sampai dia masaknya jam 12 malam, didistribusikan misalnya untuk sore. Loh enggak bisa, ya harusnya dia masaknya jam 12 siang,” lanjutnya.
Pandangan Pengamat MBG
Keputusan pemerintah yang tetap menyediakan makanan segar dan matang untuk MBG menimbulkan pertanyaan untuk beberapa pengamat. Melansir Tribunnews, sejumlah pengamat menyatakan pembagian MBG di bulan Ramadan berisiko mubazir karena mayoritas penerima sedang berpuasa. Selain itu, pemerintah juga belum memberikan pernyataan resmi terkait tempat penyimpanan makanan selama Ramadan. Hal tersebut menjadi perhatian yang harus segera teratasi, mengingat makanan segar berisiko tinggi untuk basi dan Bulan Ramadan seringkali mobilitasnya sudah sangat padat.
Penutup
Program MBG sebenarnya memiliki niat dan tujuan yang mulia, namun pemerintah semestinya memikirkan pelaksanaannya di Bulan Ramadan matang-matang agar tidak menjadi mubazir. BGN harus menyosialisasikan Standar Operasional Produksi (SOP) yang ketat jauh-jauh hari agar PGGN dapat beradaptasi dan menyesuaikan proses produksinya. Jangan sampai program yang dicanangkan menuntaskan stunting di negeri ini menjadi malapetaka kesehatan anak-anak Indonesia.
Baca Juga: MBG Tetap Jalan Saat Libur Nataru: Program Besar dan Efektivitas Kecil


