Mengapa “Stalking” Sebelum PDKT? Memahami Hubungan Interpersonal melalui Uncertainty Reduction Theory

CampusNet – Pernah merasa gugup saat bertemu orang baru? Atau tanpa sadar mengecek media sosial seseorang sebelum akhirnya memutuskan untuk membalas pesannya? Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan generasi digital, melainkan bagian dari proses psikologis yang dijelaskan dalam Uncertainty Reduction Theory (URT).

Teori yang dikemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese pada 1975 ini menjelaskan bahwa ketika dua individu yang belum saling mengenal bertemu, mereka secara alami terdorong untuk mengurangi ketidakpastian satu sama lain. Dalam hubungan interpersonal, ketidakpastian itu bisa berupa pertanyaan sederhana: Apakah dia bisa dipercaya? Bagaimana karakternya? Apakah kami cocok?

Ketidakpastian sebagai Titik Awal Relasi

Menurut Berger, manusia cenderung tidak nyaman berada dalam situasi yang tidak dapat diprediksi. Ketidakpastian dalam interaksi awal dapat menimbulkan kecemasan, kesalahpahaman, hingga penarikan diri. Sehingga, komunikasi menjadi alat utama untuk memperoleh informasi dan membangun prediktabilitas.

Uncertainty Reduction Theory berangkat dari asumsi bahwa semakin tinggi tingkat ketidakpastian, semakin besar motivasi seseorang untuk mencari informasi. Informasi tersebut membantu individu memahami perilaku orang lain sekaligus menyesuaikan perilakunya sendiri.

Dalam hubungan interpersonal seperti pertemanan, relasi profesional, maupun romantis, fase awal interaksi hampir selalu diwarnai oleh upaya membaca situasi. Seseorang dapat mengamati bahasa tubuh, pilihan kata, respons terhadap humor, hingga cara seseorang memperlakukan orang lain.

Empat Strategi Mengurangi Ketidakpastian

Berger mengidentifikasi tiga strategi utama dalam mengurangi ketidakpastian, yang kemudian berkembang menjadi empat dalam konteks komunikasi modern.

1. Strategi Pasif
Individu hanya mengamati tanpa terlibat langsung. Misalnya, memperhatikan bagaimana seseorang berbicara dalam diskusi atau bagaimana dirinya bersikap kepada teman-temannya. Observasi ini membantu membentuk kesan awal tanpa risiko konfrontasi.

2. Strategi Aktif
Individu mencari informasi melalui pihak ketiga atau lingkungan sosial. Bertanya kepada teman mengenai reputasi seseorang atau latar belakangnya termasuk dalam strategi ini. Informasi diperoleh tanpa harus berinteraksi langsung dengan orang yang bersangkutan.

3. Strategi Interaktif
Strategi ini adalah bentuk paling langsung yaitu berkomunikasi dengan orang tersebut. Bertanya tentang hobi, pekerjaan, atau pandangan hidup merupakan cara untuk memperoleh pemahaman lebih dalam. Pada tahap ini, self-disclosure atau keterbukaan diri juga memainkan peran penting. Semakin seseorang membuka diri, semakin besar peluang terbentuknya kedekatan.

4. Strategi Ekstraktif (Digital)
Era digital mendorong individu semakin dominan menggunakan strategi ekstraktif. Mereka secara aktif mencari informasi melalui jejak digital dengan melihat unggahan Instagram, membaca komentar, atau memeriksa profil LinkedIn. Aktivitas yang sering disebut “stalking” ini menjadi cara individu mengurangi ketidakpastian sebelum melanjutkan interaksi.

Menariknya, individu kerap melakukan strategi digital ini sebelum memulai komunikasi langsung. Dengan demikian, banyak hubungan interpersonal modern bermula dari ruang virtual.

Ketidakpastian dan Hubungan Romantis

Dalam hubungan romantis, Uncertainty Reduction Theory menjadi sangat relevan yang mana, fase pendekatan atau PDKT sarat dengan upaya saling membaca dan memahami. Individu mencoba menilai kesesuaian nilai, gaya komunikasi, hingga visi masa depan.

Namun, teori ini juga menunjukkan paradoks, di satu sisi, manusia ingin mengurangi ketidakpastian. Di sisi lain, sedikit misteri justru dapat meningkatkan ketertarikan. Beberapa penelitian lanjutan menunjukkan bahwa ketidakpastian tertentu dapat memicu rasa penasaran dan membuat hubungan terasa lebih menantang.

Fenomena seperti ghostingbreadcrumbing, atau tarik-ulur komunikasi dalam hubungan modern dapat dipahami melalui lensa ini. Ketika informasi yang diterima tidak konsisten, tingkat ketidakpastian meningkat, dan respons emosional pun ikut terpengaruh.

Relevansi di Era Digital

Uncertainty Reduction Theory lahir di era komunikasi tatap muka, tetapi era digital justru memperkuat relevansinya. Media sosial menyediakan informasi yang melimpah, namun pengguna tidak selalu menyajikan informasi secara akurat atau kontekstual. Alih-alih benar-benar mengurangi ketidakpastian, individu sering memproduksi interpretasi berlebihan atas informasi digital.

Sebagai contoh, seseorang dapat melihat orang lain aktif di media sosial tetapi tidak membalas pesan, lalu membangun asumsi negatif. Dalam situasi ini, individu memperumit ketidakpastian kognitif ketika ia mencoba menebak apa yang dipikirkan orang lain.

Selain itu, algoritma media sosial membentuk dan menampilkan citra diri yang telah terkurasi. Pengguna memilih, menyunting, dan mengelola informasi yang mereka tampilkan. Sehingga, individu yang menggunakan strategi ekstraktif tidak selalu memperoleh gambaran realitas yang utuh dan menjalankan proses pengurangan ketidakpastian dalam ruang yang semakin ambigu.

Ketidakpastian sebagai Dinamika, Bukan Masalah

Alih-alih memandang ketidakpastian sebagai hambatan, hubungan interpersonal dapat dipahami sebagai proses negosiasi makna yang terus berlangsung. Ketidakpastian bukan sekadar sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan bagian dari dinamika relasi itu sendiri.

Setiap hubungan dimulai dari ketidaktahuan, melalui komunikasi, baik observasi, percakapan, maupun pencarian informasi digital, manusia membangun pemahaman, kepercayaan, dan kedekatan.

Di tengah dunia yang serba terkoneksi, mungkin seseorang memang semakin cepat memperoleh informasi. Namun, memahami seseorang tetap membutuhkan waktu, dialog, dan pengalaman bersama dan mungkin, sedikit ketidakpastian justru membuat hubungan terasa lebih manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok