Minggu Kelabu Kereta: Rekapitulasi Keterlambatan KRL Minggu Ini

CampusNet – Seminggu terakhir, hujan mengguyur lebat di berbagai provinsi di Indonesia. Meskipun terdapat pepatah “hujan adalah berkah”, nampaknya perubahan iklim menambah satu masalah baru, yaitu banjir. Banjir yang terjadi melumpuhkan banyak sektor, salah satunya adalah transportasi menggunakan kereta. Dampak yang terasa pun luar biasa, banyak perjalanan KRL yang mengalami keterlambatan akibat “berebut” jalur dengan KA Jarak Jauh? Apa saja keterlambatan KRL yang terjadi di Minggu ini?

Keterlambatan KRL Efek Domino Jalur Pantura

Banjir yang menggenangi sejumlah lintasan jalur kereta api di Pulau Jawa berimbas pada keterlambatan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Salah satunya adalah akibat meluapnya air di petak jalan Pekalongan – Sragi, wilayah DAOP 4 Semarang (16/1). Kejadian ini mengakibatkan banyak kereta api yang tertahan dan memutar ke jalur selatan. Selain itu, sebanyak 86 KAJJ dan 12 kereta api barang terpaksa membatalkan perjalanannya. 

Rekayasa tersebut menimbulkan efek domino yang berimbas pada keterlambatan KRL Jabodetabek. Akibat banyaknya kereta yang terlambat, KRL tertahan demi KAJJ melintas terlebih dahulu. Salah satu laporan dari pengguna X via akun pribadinya, mengabarkan bahwa KRL telah mengalami keterlambatan sejak Senin, 18 Januari pagi hari. Keterlambatan tersebut mengakibatkan KRL jalur biru yang seharusnya pukul 07.30 sudah sampai Stasiun Karet, pukul 07.49 masih “mengetem” di Manggarai. Pihak KAI merespons dengan menjelaskan bahwa terdapat pergantian jalur keluar masuk di Manggarai sehingga terjadi keterlambatan. 

Keterlambatan KRL akibat Banjir di Depo Jakarta Kota 

Selain banjir di Jalur Pantura, banjir juga menggenang sejumlah wilayah di Jakarta, salah satunya Depo Kereta Jakarta Kota (21/1). Hal ini mengakibatkan sejumlah rangkaian KAJJ berpindah ke Depo Cipinang, Jakarta Timur. KAI Commuter menerangkan perpindahan tersebut dalam pernyataannya di X, “Saat ini masih terdapat genangan air di Depo Jakarta Kota, imbas intenstitas hujan yang tinggi, mengakibatkan lokasi penyimpanan rangkaian KA Jarak Jauh sementara dialihkan ke Depo Cipinang,” melansir dari Bloomberg Technoz.

Perpindahan KAJJ ke Depo Cipinang menyebabkan antrean masuk KA di beberapa stasiun, seperti Jatinegara, Manggarai, Pasar Senen, dan Gambir. KRL pun turut terdampak antrean tersebut. Perjalanan KRL jalur Cikarang dan Bogor mengalami keterlambatan di hari tersebut. Pengguna melaporkan antrean KRL di Stasiun Buaran yang lebih lama dari biasanya, mencapai 20 menit. Keterlambatan tersebut berlangsung hingga malam hari. 

Gangguan Tiang Listrik Melumpuhkan Green Line

KRL lintasan Tanah Abang – Rangkasbitung turut mengalami gangguan di minggu ini. Bukan karena banjir, namun gangguan tersebut berasal dari rusaknya tiang listrik aliran atas (LAA) di antara stasiun Maja dan Tigaraksa. KAI Commuter mengumumkan insiden ini di akun X resmi. Dalam keterangannya, KAI Commuter menyebutkan insiden tersebut terjadi di pukul 06.07 dan langsung menerjunkan petugas untuk memperbaikinya, “Terdapat gangguan operasional pada tiang listrik aliran atas (LAA) di antara Stasiun Maja-Tigaraksa dan saat ini dalam penanganan oleh petugas, dengan estimasi waktu perbaikan kurang lebih 2 jam dari pukul 06.00 WIB,” rilis KAI Commuter. 

Gangguan yang terjadi menyebabkan kelumpuhan di Jalur Rangkasbitung. Akibatnya, KRL hanya bisa melewati satu jalur dan menggunakan kecepatan terbatas pada jalur Stasiun Maja – Tigaraksa. Terdapat beberapa rekayasa pola operasi seperti KA 1666A Tanah Abang – Rangkasbitung yang menghentikan perjalanannya di Parung Panjang. Selain itu, perjalanan KA 1681B Rangkasbitung – Tanah Abang  dan KA 1682A Tanah Abang – Rangkasbitung terpaksa batal. 

Penutup

Minggu kelabu ini seakan menjadi pengingat kerapuhan sistem transportasi. Cuaca ekstrem dan gangguan teknis yang datang bertubi-tubi dapat menyebabkan kelumpuhan total pada perjalanan. Mulai dari lumpuhnya jalur pantura yang memiliki efek keterlambatan di Jabodetabek hingga terendamnya Depo Jakarta Kota serta gangguan tiang listrik, semuanya bermuara pada satu korban: Penumpang.

Bagi penumpang, keterlambatan yang terjadi tidak dapat terhitung hanya sebagai satuan menit. Di balik keterlambatan tersebut, ada ribuan pekerja dengan ancaman potongan gaji akibat keterlambatan, mahasiswa yang tertinggal jam ujian, dan pedagang yang terpotong laba. Pihak KAI dan KCI tidak dapat hanya fokus pada perbaikan infrastruktur fisik, tetapi pada manajemen prioritas yang lebih baik. Transparansi informasi dan kecepatan merespons menjadi salah satu bentuk menghormati penumpang di tengah ketidakpastian perjalanan. Karena bagi para pejuang komuter, kereta lebih dari sekadar alat angkut. Ia merupakan jembatan untuk menyambung kehidupan mereka. 

Baca Juga: Kembali Sekolah Pascabencana, Tenda Pengungsian Jadi Ruang Kelas di Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *