Pers Mahasiswa vs Menfess: Bagaimana Menjaga Relevansi Persma?

CampusNet – Mahasiswa sering mengandalkan akun anonim untuk mendapatkan kabar kampus paling cepat. Namun, Pers Mahasiswa atau Persma tetap memegang peran krusial sebagai pilar informasi yang kredibel. Redaksi persma menjalankan standar jurnalistik yang sangat ketat sebelum mempublikasikan sebuah berita. Mereka melakukan verifikasi data secara mendalam kepada berbagai pihak terkait. Mengutip dari artikel Remotivi, proses ini menjamin kebenaran informasi bagi seluruh sivitas akademika. Oleh karena itu, tingkat kepercayaan publik terhadap produk persma jauh lebih tinggi. Selain itu, jurnalis kampus memiliki tanggung jawab moral terhadap kode etik jurnalistik.

Maka dari itu, kebenaran tetap menjadi panglima utama dalam setiap laporan mereka. Persma menyajikan masalah, baik nasional ataupun lingkup kampus, secara utuh dan tidak terpotong-potong. Hal ini karena menyajikan isu sensitif seringkali memerlukan profesionalitas dan dasar-dasar jurnalistik. Mahasiswa sebagai pembaca membutuhkan jaminan bahwa berita tersebut bukan sekadar fitnah belaka. Tanpa proses redaksional, sebuah kabar akan kehilangan esensi kebenarannya. Maka dari itu, persma diharapkan dapat hadir sebagai penengah di tengah simpang siur informasi liar.

Melampaui Kecepatan Akun Anonim

Akun menfess memang unggul dalam hal kecepatan penyebaran sebuah isu. Namun, akun anonim tersebut seringkali menyebarkan hoaks tanpa melalui tahap pengecekan. Sebaliknya, persma memiliki keleluasaan untuk turun langsung ke lapangan untuk mencari bukti konkret. Mereka menemui narasumber kunci demi mendapatkan pernyataan yang berimbang. Melansir dari Siaran Pers AJI, kerja keras ini menjadi bentuk perlindungan terhadap hak informasi mahasiswa. Meskipun menghadapi banyak ancaman, idealisme jurnalis kampus tetap berdiri dengan sangat tegak. Walaupun demikian, persma harus terus mengasah ketajaman analisis mereka setiap hari, mengingat anggota mereka adalah mahasiswa yang masih harus memperdalam ilmunya.

Pers mahasiswa memiliki struktur organisasi yang jelas untuk menjamin keberlanjutan karya. Redaktur mengevaluasi setiap kata agar pesan berita tersampaikan dengan jernih. Konten menfess biasanya hanya berisi keluhan singkat tanpa ada solusi nyata. Sebaliknya, Pers mahasiswa memiliki kelebihan untuk melakukan analisis mendalam mengenai kebijakan birokrasi kampus. Pembaca juga mendapatkan edukasi mengenai cara berpikir kritis melalui rubrik opini. Perbedaan kualitas ini membuat persma tetap tak tergantikan oleh akun menfess. Pihak universitas pun cenderung lebih mendengarkan laporan yang berbasis data valid daripada screenshot cuitan dengan pengirim anonim.

Strategi Eksistensi Pers Mahasiswa di Era Digital

Dunia digital memaksa persma untuk terus melakukan inovasi yang sangat kreatif. Pers mahasiswa harus menguasai media sosial sebagai sarana distribusi konten yang luas. Berikut adalah beberapa strategi bertahan yang bisa mereka terapkan segera:

  • Adopsi penggunaan format multimedia seperti video pendek dan juga podcast yang menarik.
  • Manfaatkan platform media sosial untuk mendistribusikan konten berita secara lebih luas.
  • Menyajikan data visual lewat infografis yang sangat mudah dipahami oleh pembaca.
  • Membangun kedekatan dengan komunitas mahasiswa melalui rubrik interaktif di situs web.
  • Menjalin kolaborasi antar lembaga persma untuk memperkuat basis perlindungan hukum.

Perubahan gaya bahasa juga menjadi hal yang sangat krusial bagi masa depan pers mahasiswa. Redaksi persma harus berani menggunakan diksi yang lebih santai namun tetap memiliki isi. Meskipun santai, standar akurasi fakta tidak boleh berkurang sedikit pun dari sebelumnya. Kepercayaan audiens dapat terbentuk secara organik lewat karya-karya yang sangat konsisten. Pers mahasiswa yang tangguh sejatinya adalah mereka yang mampu beradaptasi tanpa harus kehilangan idealisme.

Baca juga: Putusan MK: Sanksi Pidana Bukan Instrumen Utama Pers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *