2026 Baru Masuk Minggu Ketiga, Rupiah Hampir Tembus 17 Ribu per Dolar AS

CampusNet – Memasuki minggu ketiga 2026, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan mendekati level 17.000 per dolar AS. Dilansir dari CNN Indonesia, rupiah berada di posisi Rp16.915 per dolar AS pada Kamis (22/1) pagi. Pelemahan mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir ini tidak terjadi tanpa sebab. Sebaliknya, kombinasi faktor global dan domestik terus menekan pergerakan pasar keuangan di awal tahun.

Faktor Global yang Menekan Rupiah

Dari sisi global, meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia memicu tekanan terhadap rupiah. Situasi ini mendorong pelaku pasar bersikap lebih hati-hati dalam menempatkan aset. Selain itu, Amerika Serikat menerapkan kebijakan tarif dagang yang turut memperburuk sentimen pasar global dan memengaruhi arus perdagangan internasional.

Di sisi lain, tingkat keuntungan investasi di US Treasury konsisten tinggi dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Kondisi ini menarik minat investor global untuk menempatkan dananya di aset keuangan AS. Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, menyampaikan hal tersebut, sebagaimana dilansir CNN Indonesia. Ia menambahkan bahwa ekspektasi perubahan arah suku bunga Bank Sentral AS turut memperkuat sentimen global. Akibatnya, dolar AS menguat dan modal asing mengalir keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor Domestik yang Memengaruhi Nilai Tukar

Dari dalam negeri, arus modal asing keluar ikut menekan rupiah. Perry menjelaskan bahwa kebutuhan valuta asing oleh sejumlah korporasi besar meningkat. Permintaan dolar AS untuk operasional dan pembayaran impor menambah tekanan terhadap nilai tukar. Selain itu, pasar mencermati kondisi fiskal nasional serta dinamika pencalonan pejabat baru di Bank Indonesia. Meski demikian, otoritas moneter menegaskan bahwa proses tersebut berjalan sesuai aturan dan tidak memengaruhi independensi kebijakan.

Meski menghadapi tekanan, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar. Mengutip dari CNN Indonesia, bank sentral menyatakan kesiapan melakukan intervensi di berbagai instrumen pasar keuangan dengan menggunakan pasar spot dan derivatif untuk meredam volatilitas. Langkah ini didukung oleh kondisi fundamental ekonomi yang dinilai tetap solid, seperti inflasi yang terkendali, tingkat keuntungan aset domestik yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik.

Kesimpulan

Rupiah hampir tembus 17 ribu per dolar AS menjadi pengingat bagi semua pihak untuk bertindak lebih sigap. Faktor global dan kondisi dalam negeri sama-sama memengaruhi pergerakan nilai tukar di awal 2026. Pemerintah dan otoritas terkait perlu menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang jelas dan transparan. Di saat yang sama, masyarakat perlu meningkatkan pemahaman ekonomi dan menyikapi pergerakan rupiah secara rasional.

Baca juga: Pengangkatan 32 Ribu PPPK SPPG Disorot, Ketimpangan Nasib Guru Honorer Kembali Menguat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *