Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Bursa Saham Global Terguncang

CampusNet – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam hingga menembus 100 dolar AS per barel, memicu guncangan di pasar keuangan global. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Minyak mentah acuan global Brent bahkan sempat diperdagangkan di kisaran lebih dari 110 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak tajam. Kenaikan ini menjadi yang pertama kali sejak lonjakan harga energi akibat perang Rusia–Ukraina pada 2022.

Para analis menyebut lonjakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global setelah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak adalah penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut. Ketika jalur ini terganggu, pasar energi langsung merespons dengan kenaikan harga yang signifikan.

Selain itu, beberapa negara produsen minyak di kawasan Teluk dilaporkan mulai mengurangi produksi karena kesulitan menyalurkan pasokan energi akibat terganggunya jalur distribusi.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan energi global bisa semakin tertekan jika konflik terus berlanjut.

Bursa Saham Asia Anjlok

Lonjakan harga minyak tersebut juga berdampak langsung pada pasar saham global, terutama di kawasan Asia.

Sejumlah indeks saham utama mengalami penurunan tajam, antara lain:

  • Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 7 persen
  • KOSPI Korea Selatan merosot lebih dari 8 persen
  • Hang Seng Hong Kong melemah hampir 3 persen

Investor global mulai mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Ancaman Inflasi Global

Kenaikan harga energi juga memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sekitar 10 persen dapat meningkatkan inflasi global hingga 0,4 persen serta menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Jika harga minyak terus naik, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari transportasi, industri, hingga harga kebutuhan pokok.

Harga Minyak Bisa Naik Lebih Tinggi

Beberapa analis bahkan memperkirakan harga minyak bisa terus meningkat jika konflik di Timur Tengah tidak mereda.

Menteri Energi Qatar memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi dari negara-negara Teluk berpotensi membuat harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel.

Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas pasar energi global sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di kawasan tersebut.\

Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Ancaman Krisis Energi Global Menguat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *