CampusNet – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program pengabdian masyarakat yang digelar di Kampung Ilmu, Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat. Memasuki tahun kelima pelaksanaan program, kegiatan yang bertajuk “Aksi Nyata Pengmas FKG UI” tersebut berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis kolaborasi multidisiplin. Fokus utama program tahun ini adalah pencegahan stunting serta penguatan kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan yang berkelanjutan.
FKG UI Kembangkan Model Desa Binaan Berbasis Data
Melansir dari ANTARA, Jumat (12/6), Dekan FKG UI, Prof. Lisa Rinanda Amir, menjelaskan bahwa pengabdian masyarakat tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan semata, tetapi juga harus mampu menciptakan perubahan jangka panjang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci dalam menghadirkan solusi yang lebih komprehensif untuk mengatasi berbagai persoalan kesehatan di tingkat desa. Selama lima tahun pelaksanaannya, program ini telah berkembang menjadi model desa binaan yang mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Libatkan Lima Fakultas dan Berbagai Mitra
Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui koordinasi dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) UI. Selain FKG, kegiatan juga melibatkan empat fakultas lainnya, yakni Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom). Kolaborasi tersebut menghasilkan dua program utama, yaitu “Segitiga Intervensi Stunting” dan “Strategi Respons Fluktuasi Penyakit Gigi dan Mulut”.
Tekan Kasus Penyakit Gigi dan Mulut
Berdasarkan data Puskesmas Tegalwaru, penyakit gigi dan mulut sempat masuk enam besar penyakit terbanyak pada 2023 dengan total 876 kasus. Setelah dilakukan berbagai intervensi oleh tim FKG UI, angka tersebut berhasil ditekan hingga keluar dari daftar 10 penyakit terbanyak pada 2024. Meski demikian, pada 2025 kasus kembali muncul di posisi kedelapan dengan jumlah 463 kasus. Temuan tersebut mendorong tim pengabdian masyarakat UI untuk merancang strategi yang lebih tepat sasaran agar angka kasus tidak kembali meningkat di masa mendatang.
Tiga Pendekatan untuk Atasi Stunting
Program “Segitiga Intervensi Stunting” menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan tahun ini. Pendekatan yang diterapkan mencakup aspek kesehatan, ekonomi, dan komunitas. Pada sektor kesehatan, tim gabungan dari FKG, FK, dan FIK UI melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap ibu hamil dan balita. Penanganan juga dilakukan terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut yang dapat memengaruhi asupan gizi anak.
Sementara itu, FEB UI memberikan pelatihan terkait ketahanan pangan dan pengelolaan keuangan keluarga agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara berkelanjutan. Di sisi lain, pendekatan komunitas dilakukan dengan melibatkan kader kesehatan dan relawan lokal yang dibekali kemampuan untuk melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri, termasuk deteksi dini stunting dan gangguan kesehatan gigi.
Libatkan Ratusan Personel dan Ribuan Penerima Manfaat
Program pengabdian masyarakat ini melibatkan sekitar 130 personel yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dokter pendidik klinis, peserta pendidikan dokter spesialis, hingga alumni FKG UI. Selain itu, kegiatan juga mendapat dukungan dari tenaga kesehatan dan berbagai mitra lokal. Secara keseluruhan, program tersebut telah memberikan manfaat langsung kepada 1.403 orang yang terdiri atas siswa sekolah dasar, siswa sekolah menengah, tenaga pendidik, ibu hamil, tenaga kesehatan puskesmas, hingga masyarakat sekitar Kampung Ilmu.
Wujud Komitmen UI dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi
Melalui program ini, Universitas Indonesia menegaskan perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan dan pusat penelitian, tetapi juga sebagai perguruan tinggi yang aktif memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan desa yang mampu direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.
Baca juga: Lulusan IPS Jangan Minder! Ini 6 Sekolah Kedinasan yang Bisa Kamu Daftar Tahun 2026

