Inspiratif! Lulusan UGM Ini Berhasil Tembus Double Degree di Harvard dan MIT

CampusNet – Nama Dylan Jesse Andrian mendadak jadi perbincangan hangat di dunia pendidikan. Bagaimana tidak? Pemuda asal Jakarta ini berhasil menorehkan prestasi luar biasa dengan menempuh studi double degree di dua universitas terbaik dunia sekaligus: Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Perjalanan Dylan membuktikan bahwa dengan visi yang jelas dan kerja keras, batasan disiplin ilmu bukan lagi penghalang untuk berkontribusi bagi bangsa.

Dari Hukum UGM Menuju Panggung Global

Dylan merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Mei 2025. Tak lama setelah menyandang gelar sarjana, ia diterima di program Master of Laws (LL.M.) di Harvard Law School. Namun, ambisinya tidak berhenti di situ.

Ketertarikannya yang mendalam pada dunia ekonomi membawanya untuk mendaftar di MIT, kampus yang menduduki peringkat atas dunia versi Times Higher Education (THE) World University Rankings 2026. Di MIT, Dylan mengambil program Data, Economics, and Design of Policy (DEDP).

Mengapa Menggabungkan Hukum dan Ekonomi?

Bagi sebagian orang, mengambil dua jurusan yang berbeda di kampus “Ivy League” dan institusi teknologi papan atas terdengar tidak lazim. Namun, Dylan memiliki alasan fundamental yang kuat.

“Ekonomi dan hukum bisa menjadi dua bidang yang saling mendukung. Saat hukum datang terlambat untuk membantu, peran ekonomi bisa memberi banyak pilihan melalui kebijakan yang lebih struktural dan preventif,” ujar Dylan.

Ia mencontohkan bagaimana kebijakan publik, seperti program makan siang gratis atau pembangunan infrastruktur, membutuhkan analisis data yang ketat agar tepat sasaran. Di MIT, ia belajar dari para peraih Nobel ekonomi untuk memastikan kebijakan bukan sekadar teori, melainkan efektif secara praktik.

Strategi Menembus Kampus Top Dunia

Banyak yang mengira ada jalur khusus untuk mahasiswa Harvard masuk ke MIT, namun Dylan menegaskan bahwa ia melalui jalur reguler. Berikut beberapa poin penting dari strateginya:

  1. Manajemen Waktu: Selama menjalani kuliah full-time di Harvard, Dylan mengambil kursus daring sebagai dasar untuk melanjutkan S2 ekonomi di MIT.
  2. Lintas Disiplin: Ia memanfaatkan sistem cross-registration yang umum di antara kedua kampus tersebut untuk memperkaya perspektifnya.
  3. Fokus pada Kontribusi: Motivasinya adalah kembali ke Indonesia dengan keahlian yang spesifik, yakni persimpangan antara data, ekonomi, dan desain kebijakan.

Perjuangan Beasiswa dan Pesan untuk Anak Muda

Meski sudah diterima di kampus elite, perjuangan Dylan belum usai. Saat ini, ia tengah mengeksplorasi berbagai opsi beasiswa, termasuk mempertimbangkan program Fulbright untuk mendukung studinya.

Kepada sesama pejuang beasiswa dan anak muda Indonesia, Dylan berpesan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar di luar negeri.

“Pastikan Anda pulang dengan sesuatu yang tidak mungkin Anda pelajari di dalam negeri. Temui orang-orang yang berbeda, diskusikan hal-hal yang tidak biasa, dan terbukalah terhadap perubahan,” pungkasnya.

Kisah Dylan Jesse Andrian adalah pengingat bahwa prestasi akademik bukan hanya soal gelar, melainkan tentang membangun kapasitas diri untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *