Boraks Kadar Tinggi dan Bakteri E. Coli Positif Jadi Penyebab Keracunan Massal MBG di Anambas

CampusNet – Investigasi mendalam yang dipimpin oleh Badan Gizi Nasional (BGN) bersama BPOM akhirnya menyingkap fakta mengejutkan di balik musibah keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Hasil uji laboratorium mengonfirmasi adanya pelanggaran ganda yang fatal pada makanan program uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG): kontaminasi zat kimia berbahaya jenis boraks dalam dosis tinggi serta cemaran bakteri Escherichia coli.

Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas, Sahril, menegaskan bahwa total korban secara akumulatif melonjak hingga 162 orang. Angka tersebut tidak hanya mencakup siswa dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP, melainkan juga menyasar 41 orang tua dan anggota keluarga lainnya. Mereka dilaporkan ikut jatuh sakit setelah mengonsumsi sisa makanan MBG yang dibawa pulang oleh anak-anak mereka ke rumah.

Temuan Laboratorium yang Mengejutkan

Berdasarkan uji klinis sampel sisa makanan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna dan diperkuat oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ditemukan dua unsur pencemar utama:

  1. Penyalahgunaan Boraks (Kadar Ekstrem): Sampel makanan mendeteksi adanya kandungan natrium tetraborat (boraks) dengan kisaran kadar cemaran yang sangat tinggi, yaitu antara 100 hingga 5.000 miligram per kilogram. Penemuan ini memicu tanda tanya besar lantaran menu yang disajikan berupa komponen alami standar—yakni telur sambal kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran (sawi, wortel, buncis)—yang secara rasional sama sekali tidak memerlukan zat pengawet tekstur tersebut.
  2. Cemaran Bakteri E. Coli: Selain zat kimia, BPOM memastikan sampel tersebut positif terkontaminasi bakteri Escherichia coli di luar ambang batas aman. Keberadaan bakteri ini menjadi indikator kuat adanya masalah serius pada aspek higiene sanitasi selama proses pengolahan pangan.

Dapur SPPG Dihentikan Total dan Disanksi

Menindaklanjuti temuan fatal tersebut, BGN mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara waktu (suspend) operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Asuk yang bertindak sebagai penyedia tunggal menu MBG di wilayah tersebut.

BGN memberikan syarat mutlak bagi SPPG jika ingin kembali beroperasi di kemudian hari, di antaranya harus merombak total sistem keamanan pangan, memperbaiki rantai pasok bahan baku, serta wajib memperbarui dan lulus uji Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Pihak otoritas gabungan termasuk kepolisian setempat masih terus melakukan penyelidikan lanjutan untuk mengurai titik masuknya zat boraks ke dalam makanan, serta menguji apakah bakteri E. coli berasal dari kontaminasi silang pada sumber air bersih dapur atau buruknya personal hygiene para pekerja.

Kondisi Terkini Korban

Kepala Dinas Kesehatan Anambas, Feri Oktavia, membenarkan bahwa seluruh korban berasal dari klaster sumber makanan yang sama meski berada di sekolah yang berbeda. Seluruh korban sempat dilarikan secara intensif ke RSUD Palmatak dan Puskesmas Siantan Tengah setelah mengeluhkan gejala mual, pusing, kram perut, hingga muntah hebat. Beruntung, per awal Mei 2026, kondisi seluruh korban dilaporkan telah pulih secara klinis dan diizinkan kembali ke rumah.

Kasus di Anambas ini menjadi evaluasi nasional yang krusial bagi pemerintah pusat. Insiden ini membuktikan bahwa implementasi program nasional MBG tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan kalori dan gizi semata, melainkan wajib menempatkan aspek food safety (keamanan pangan) sebagai pilar utama yang tidak dapat ditawar demi keselamatan anak-anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok