Sejarah Perguruan Tamansiswa: Saksi Perjuangan Pendidikan Nasional

CampusNet – Perguruan Tamansiswa merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional Indonesia. Didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, lembaga ini menjadi simbol perjuangan melawan penjajahan melalui jalur pendidikan. Tamansiswa tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga pada pembentukan karakter dan jiwa merdeka bangsa. Melansir dari laman Tamansiswa Pusat, berikut rangkumannya.

Profil Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga bangsawan, namun memilih hidup merakyat demi memperjuangkan nasib rakyat Indonesia.

Pada tahun 1928, ia resmi mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara sebagai bentuk kedekatannya dengan masyarakat. Ia dikenal sebagai sosok nasionalis, patriotis, dan memiliki semangat kebhinekaan. Ki Hajar Dewantara wafat diusia 70 tahun pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

Sejarah Perguruan Tamansiswa

Berdirinya Perguruan Tamansiswa tidak lepas dari kondisi bangsa Indonesia di bawah penjajahan Belanda. Rakyat hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan ketidakmerdekaan.

Melihat kondisi tersebut, para tokoh bangsa membentuk paguyuban bernama “Selasa Kliwonan”. Dalam forum ini, mereka merumuskan gagasan bahwa kemerdekaan tidak hanya dapat dicapai melalui politik, tetapi juga melalui pendidikan yang mampu membangun kesadaran dan kepribadian bangsa.

Paguyuban Selasa Kliwonan menjadi wadah diskusi tokoh-tokoh penting seperti Pangeran Suryamentaram dan Ki Hajar Dewantara. Mereka membahas kondisi rakyat dan merumuskan cita-cita:

  • Mamayu hayuning salira (membahagiakan diri)
  • Mamayu hayuning bangsa (membahagiakan bangsa)
  • Mamayu hayuning manungsa (membahagiakan umat manusia)

Hasilnya, Ki Hajar Dewantara ditugaskan untuk mengembangkan pendidikan anak-anak, sementara Pangeran Suryomentaram fokus pada pendidikan orang dewasa.

Perguruan Tamansiswa resmi berdiri pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Berdirinya lembaga ini ditandai dengan candrasengkala “Lawan Sastra Ngesti Mulya” yang berarti “dengan pengetahuan (pendidikan) mencapai kemuliaan”.

Sekolah pertama yang didirikan adalah Taman Indria (Taman Lare) di Kampung Tanjung yang berfokus pada pendidikan anak-anak. Selain itu, juga didirikan Taman Guru sebagai tempat pelatihan calon pendidik (pamong).

Saat diasingkan ke Belanda, Ki Hajar Dewantara mendalami konsep pendidikan dari tokoh-tokoh dunia seperti:

  • Dokter Froebel, pelopor perguruan anak-anak yang diberi nama Kindergarten (Taman Anak)
  • Dokter Maria Montessori, yang mendirikan taman kanak-kanak (Casa dei Bambini).

Pendidikan Jalan Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara meyakini bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai kemerdekaan. Melalui pendidikan, rakyat dapat:

  • Meningkatkan kesadaran nasional
  • Membentuk karakter dan kepribadian bangsa
  • Menanamkan jiwa merdeka

Bersama 7 (tujuh) tokoh Nyi Hajar Dewantara, R.M. Soetatmo Soerjoekosoemo, R.M.H. Soerjo Poetra, B.R.M. Soebono, Ki Prono Widigdo, Ki Soetopo Wonobojo, Ki Tjokrodirdjo, ia mendirikan Tamansiswa sebagai gerakan pendidikan nasional berbasis budaya Indonesia.

Perguruan Tamansiswa merupakan wujud nyata perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui pendidikan, ia menanamkan nilai kemerdekaan, kebudayaan, dan kemanusiaan.

Hingga kini, semangat Tamansiswa tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun pendidikan yang berkarakter dan berkepribadian Indonesia.

Baca juga: Sejarah Museum Dewantara Kirti Griya, Jejak Peninggalan Pahlawan Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok