CampusNet – Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui pengembangan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada sektor peternakan di Provinsi Lampung. Tim mahasiswa ini berhasil menciptakan sebuah alat inovatif berupa perangkap hama lalat otomatis yang digerakkan oleh tenaga surya untuk membantu para peternak domba mengatasi gangguan sanitasi di kandang. Inovasi ini hadir sebagai solusi modern untuk meningkatkan produktivitas ternak dengan menekan populasi hama yang selama ini menjadi kendala utama dalam menjaga kesehatan hewan peliharaan.
Penerapan teknologi hijau ini dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dari bangku kuliah ke dunia nyata. Dengan menggunakan panel surya sebagai sumber energi utama, alat ini bekerja secara mandiri tanpa membebani biaya listrik bagi para peternak kecil maupun menengah. Kehadiran inovasi ini diharapkan dapat menjadi standar baru dalam pengelolaan kandang yang lebih bersih, sehat, dan efisien bagi para peternak domba di berbagai wilayah di Lampung.
Mengatasi Masalah Hama Lalat di Peternakan Domba
Masalah hama lalat di area peternakan domba bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman serius bagi kesehatan ternak karena lalat bertindak sebagai vektor berbagai macam penyakit berbahaya. Populasi lalat yang tidak terkendali dapat menyebabkan stres pada domba, menurunkan nafsu makan, hingga memicu infeksi pada luka yang pada akhirnya merugikan peternak secara finansial. Oleh karena itu, para mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia memfokuskan riset mereka pada penciptaan alat yang mampu bekerja secara konsisten setiap hari untuk menjaga populasi hama tetap rendah.
Alat perangkap hama ini didesain khusus agar tahan terhadap kondisi lingkungan kandang yang cenderung lembap dan terpapar debu setiap hari secara terus-menerus. Dengan mekanisme yang ramah lingkungan, alat ini tidak menggunakan bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari pakan ternak atau mengganggu pernapasan hewan di sekitarnya. Fokus pada keamanan hayati ini menjadikan inovasi mahasiswa tersebut sebagai solusi yang jauh lebih unggul dibandingkan metode penyemprotan insektisida konvensional yang sering digunakan oleh peternak sebelumnya.
Teknologi Energi Surya: Efisiensi dan Kemandirian Energi
Salah satu keunggulan utama dari perangkat ini adalah penggunaan panel surya yang mampu mengubah sinar matahari menjadi energi listrik untuk menggerakkan sistem perangkap. Teknologi ini sangat relevan untuk area peternakan yang lokasinya jauh dari jangkauan instalasi listrik PLN atau bagi peternak yang ingin menekan biaya operasional harian sesedikit mungkin. Dengan baterai penyimpanan internal, alat ini tetap dapat beroperasi secara optimal bahkan saat kondisi cuaca mendung atau saat matahari tidak bersinar terik di siang hari.
Implementasi energi terbarukan ini selaras dengan visi Universitas Teknokrat Indonesia dalam mendukung program pemerintah terkait pemanfaatan energi bersih di semua lini kehidupan masyarakat. Para mahasiswa merancang sistem kelistrikan yang sederhana namun tangguh agar mudah dirawat oleh peternak secara mandiri tanpa memerlukan keahlian teknis yang rumit. Kemandirian energi ini memberikan kebebasan bagi peternak untuk meletakkan alat di titik mana pun yang paling banyak dihinggapi lalat tanpa perlu memikirkan panjang kabel listrik.
Manfaat Nyata yang Dirasakan oleh Para Peternak
Sejak alat ini dipasang dan mulai dioperasikan, para peternak domba melaporkan adanya perubahan signifikan pada kebersihan kandang dan kenyamanan ternak mereka di sore hari. Populasi lalat yang biasanya mengerubungi pakan dan tubuh domba kini berkurang drastis berkat sistem perangkap otomatis yang bekerja tanpa henti selama cahaya matahari tersedia. Kondisi kandang yang lebih higienis ini secara langsung berdampak pada peningkatan kualitas hidup domba yang terlihat lebih tenang dan tidak mudah terserang penyakit kulit maupun mata.
Selain manfaat kesehatan, peternak juga merasa sangat terbantu dari sisi ekonomi karena mereka tidak perlu lagi membeli obat semprot lalat secara rutin yang harganya terus meningkat. Inovasi ini membuktikan bahwa sinergi antara dunia akademisi dan kebutuhan masyarakat dapat menghasilkan solusi nyata yang meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah. Keberhasilan proyek ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia siap menjadi agen perubahan yang solutif bagi kemajuan teknologi di Indonesia.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Inovasi perangkap hama lalat berbasis energi surya karya mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia ini merupakan langkah maju dalam modernisasi sektor peternakan tradisional di tanah air. Dengan menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dan pemahaman teknologi digital, para mahasiswa telah menciptakan alat yang praktis namun memiliki dampak yang sangat luas bagi ekosistem peternakan. Diharapkan teknologi serupa dapat dikembangkan lebih lanjut agar mampu menjangkau jenis hama lain dan dapat diproduksi secara massal untuk membantu lebih banyak peternak di seluruh penjuru negeri.
Dukungan dari pihak kampus dan pemerintah daerah sangat diperlukan agar inovasi-inovasi seperti ini tidak berhenti pada tahap prototipe saja, tetapi bisa masuk ke tahap komersialisasi. Keberhasilan ini juga diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi potensi energi terbarukan dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang ada di sekitar mereka. Universitas Teknokrat Indonesia terus berkomitmen untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa melalui karya nyata.
Baca juga: Pupuk Katrili: Inovasi Pertanian Ramah Lingkungan

