Cegah Gagal Panen, Tim Mahasiswa UGM Inovasi Sensor Cepat Pendeteksi Penyakit Tanaman Cabai

CampusNet – Ancaman gagal panen akibat serangan penyakit masih menjadi persoalan utama yang membayangi para petani cabai di berbagai daerah. Salah satu penyebab kerugian terbesar adalah infeksi virus kuning yang kerap menular dengan cepat tanpa sempat terdeteksi secara dini. Merespons tantangan tersebut, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim SPECTRA berhasil merakit perangkat sensor pintar yang mampu mendeteksi keberadaan virus pada tanaman cabai secara presisi dan efisien.

Inovasi ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE). Di bawah bimbingan Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, tim lintas disiplin yang diketuai oleh Hasan Rabbani (S1 Fisika) bersama anggota dari program studi Proteksi Tanaman dan Biologi ini mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk mengamankan produktivitas pertanian nasional.

Penggabungan Sensor Multispektral dan Kecerdasan Buatan

Pendekatan riset yang dilakukan oleh Tim SPECTRA memanfaatkan kombinasi teknologi sensor multispektral dan pemrosesan data berbasis machine learning. Sensor multispektral bekerja dengan cara merekam serta menganalisis pantulan spektrum cahaya dari daun tanaman cabai. Melalui metode ini, perubahan fisiologis pada daun yang terinfeksi virus dapat teridentifikasi secara kasatmata jauh sebelum gejala visual seperti perubahan warna menjadi kuning muncul sepenuhnya.

Data pantulan spektrum yang ditangkap oleh sensor kemudian diolah menggunakan algoritma kecerdasan buatan. Sistem ini dilatih untuk membedakan karakteristik profil jaringan tanaman sehat dengan tanaman yang sudah terpapar virus. Integrasi kedua teknologi ini memungkinkan proses identifikasi penyakit berlangsung secara cepat tanpa harus merusak jaringan tanaman.

Tahapan Penyelidikan dan Pengujian Sampel di Lapangan

Proses pengujian perangkat dilakukan secara ketat melalui eksperimen lapangan yang berlokasi di wilayah Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan di kaki Gunung Merapi ini dipilih karena mewakili karakter iklim dan lingkungan tumbuh ideal bagi budidaya cabai. Tim menanam sebanyak 30 sampel tanaman cabai yang dibagi menjadi kelompok kontrol sehat dan kelompok uji penularan.

Untuk menguji keandalan sensor, sebagian sampel disengaja dipaparkan pada vektor pembawa penyakit, yakni kutu kebul (whitefly), yang dikandangkan khusus agar menularkan virus kuning (Pepper Yellow Leaf Curl Virus). Setelah proses penularan terjadi, data pembacaan sensor multispektral divalidasi secara medis dan biologis menggunakan uji Polymerase Chain Reaction (PCR) guna memastikan tingkat akurasi serta efektivitas alat dalam mendeteksi keberadaan materi genetik virus.

Harapan Bagi Aksesibilitas Pertanian Masa Depan

Pengembangan sensor pendeteksi dini ini diharapkan mampu menjadi solusi praktis bagi permasalahan skematik yang kerap dihadapi para petani di tingkat tapak. Dengan adanya deteksi awal, petani dapat segera mengambil tindakan mitigasi atau isolasi terhadap tanaman yang terinfeksi sebelum penularan meluas ke seluruh areal lahan pertanian.

Ke depannya, Tim SPECTRA berkomitmen untuk terus menyempurnakan bentuk dan portabilitas alat agar semakin ramah pengguna. Harapannya, teknologi tepat guna ini dapat diproduksi secara terjangkau sehingga mampu diakses oleh seluruh lapisan masyarakat petani di Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas cabai di pasar nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok