Erupsi Anak Krakatau Guyur Lampung, Kualitas Udara Kampus Itera Masuk Kategori Tidak Sehat

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau kini memberikan dampak langsung pada kawasan Institut Teknologi Sumatera (Itera), Lampung. Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) langsung berlaku demi menjaga keselamatan mahasiswa. Sepinya lingkungan perkuliahan lantas mendorong tim pakar Teknik Lingkungan Itera untuk langsung menguji kualitas udara kampus Itera secara terukur.

Partikulat Dalam Ruangan Capai Kategori Tidak Sehat

Berdasarkan pengujian laboratorium awal, tim menemukan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian serius di dalam Gedung A. Dosen Teknik Lingkungan Itera, Novi Kartika Sari, mengonfirmasi bahwa kadar partikulat di dalam ruangan telah menembus batas aman dan masuk kategori tidak sehat. Sementara itu, sampel partikulat luar ruangan juga mengindikasikan tren penurunan kualitas yang serupa.

Meskipun kadar partikulat memprihatinkan, Novi menjelaskan bahwa parameter gas seperti SO₂, NO₂, CO, dan CO₂ masih berada dalam batas aman untuk dampak akut. Namun, tim peneliti tetap meminta civitas akademika untuk meningkatkan kewaspadaan. Paparan partikulat halus PM2.5 dan PM10 dapat memicu gangguan kesehatan pernapasan bagi staf yang masih beraktivitas di area kampus.

Cara Tim Pakar Mengukur Sebaran Abu Erupsi

Tim peneliti mengoperasikan dua jenis perangkat pemantau udara ambien di area pelataran serta bagian dalam Gedung A. Untuk mengukur konsentrasi partikulat luar ruangan, tim memanfaatkan instrumen High Volume Air Sampling (HVAS). Sementara itu, pemantauan partikulat dalam ruangan mengandalkan alat Low Volume Air Sampling (LVAS) yang menyala secara aktif dan kontinu.

Novi menegaskan bahwa alat pemantau ambien tidak dapat mengidentifikasi secara langsung apakah seluruh partikulat murni berasal dari material vulkanik. Meski demikian, instrumen ini berhasil memprediksi tingkat keterpaparan lokasi kampus sebagai area reseptor abu erupsi. Data pengukuran ini menjadi acuan ilmiah untuk menentukan langkah antisipasi di lingkungan akademis.

Pemantauan Berlanjut Selama Erupsi Berlangsung

Tim Teknik Lingkungan Itera berkomitmen melanjutkan proses pengawasan kualitas udara kampus Itera selama beberapa hari ke depan. Durasi pemantauan akan menyesuaikan dengan perkembangan dan intensitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

Pihak universitas terus memantau hasil uji laboratorium secara berkala sebagai pertimbangan utama dalam mengambil kebijakan perkuliahan. Langkah pemantauan aktif ini menjadi bukti kesiapan kampus dalam memitigasi dampak bencana alam bagi seluruh warga Itera.

Baca juga: Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Universitas Indonesia Berlakukan PJJ dan WFH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner TikTok